Rekor Dolar AS Naik Hingga Rp16,860, BI Beri Penjelasan
- account_circle Azka Al Ath-Har
- calendar_month Rab, 14 Jan 2026

menalar.id., – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika semakin melemah hingga mencetak rekor mencapai Rp16.872, pada Senin (12/1/2026). Turunnya nilai rupiah menjadi nilai terendah sepanjang sejarah Indonesia.
Melansir Detikfinance, Bank Indonesia (BI) mengungkap faktor penyebab melemahnya nilai tukar rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa meningkatnya tekanan di pasar keuangan internasional banyak mempengaruhi pergerakan mata uang global pada awal 2026.
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” jelasnya.
Kondisi tersebut mendorong pelemahan rupiah hingga level Rp16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026), atau terdepresiasi 1,04% secara year to date. Erwin menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional yang turut tertekan sentimen global, seperti won Korea Selatan yang melemah 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.
Ia menegaskan Bank Indonesia akan konsisten menjaga stabilitas nilai tukar guna menopang stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan. Stabilitas ekonomi tersebut dapat tercapai melalui kebijakan stabilisasi yang berkelanjutan seperti intervensi Non-deliverable forward (NDF) di pasar off-shore Asia, Eropa, dan Amerika.
Intervensi domestik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder juga menjadi upaya BI dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, arus masuk modal asing terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 turut memperkuat terkendalinya stabilitas rupiah.
“Hal ini sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps,” ujarnya.
Erwin mengatakan bahwa Indonesia masih menjaga ketahanan eksternal dengan cadangan devisa yang mencapai USD156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Jumlah tersebut mampu menopang kebutuhan impor nasional selama 6,4 bulan.
“Ini (jumlah cadangan devisa) memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global,” ujarnya.
Erwin menegaskan Bank Indonesia akan terus aktif berada di pasar global guna menjaga pergerakan nilai tukar rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia juga akan mengoptimalkan instrumen operasi moneter yang pro-pasar untuk memperkuat transmisi kebijakan, menjaga kecukupan likuiditas, mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, serta tetap mencapai sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar.
Penulis Azka Al Ath-Har
Tumbuh di antara kegelisahan dan rasa ingin tahu, belajar melihat dunia lewat detail kecil yang sering luput dari perhatian. Tertarik pada isu sosial, budaya, dan kemanusiaan.
