Danantara Beli Saham Aplikator Ojol, Driver Angkat Jempol
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month 2 jam yang lalu

menalar.id,. – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco Ahmad menyatakan pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah membeli sebagian saham perusahaan aplikator ojek online (ojol). Adapun tujuan langkah ini untuk menurunkan potongan komisi bagi para pengemudi menjadi delapan persen.
Pemerintah Hanya Akan Pangkas Delapan persen
Dasco menjelaskan dengan kepemilikan saham tersebut, pemerintah akan secara bertahap menyesuaikan sistem dan kebijakan aplikator. Ia menegaskan pemerintah dapat memangkas potongan komisi yang sebelumnya berkisar antara 10–20 persen menjadi hanya delapan persen.
“Paling pertama adalah kemudian menurunkan biaya yang diambil oleh aplikator. Tadinya 20% atau 10% ini sehingga aplikator hanya akan mengambil 8% dari yang dikumpulkan,” kata Dasco saat menerima audiensi aliansi serikat buruh di kompleks parlemen, Jumat (1/5/2026) melansir dari Antara.
Ia juga menyampaikan pembahasan terkait status hubungan kerja antara pengemudi ojol dan pihak aplikator masih dalam tahap simulasi. Meski begitu, Dasco memastikan pemerintah akan melibatkan organisasi pengemudi dalam proses perumusan kebijakan tersebut.
“Organisasi-organisasi kawan-kawan ojol ini tetap akan diajak ngomong, akan diajak berembuk,” kata dia.
Pemerintah Ingin Menguasai Saham Sepenuhnya
Lebih lanjut, Dasco menegaskan bahwa pemerintah siap memberikan bantuan kepada perusahaan yang terdampak kebijakan pemangkasan komisi. Bahkan, pemerintah membuka kemungkinan untuk mengambil alih perusahaan.
Ia menekankan langkah ini bertujuan menjaga keberlangsungan kerja para pengemudi agar tetap memiliki sumber penghasilan. Hal ini tentu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Sebelumnya, Presiden Prabowo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 yang mengatur penurunan potongan pendapatan aplikator menjadi 8%.
“Saya katakan di sini, saya tidak setuju 10%, harus di bawah 10%,” kata Prabowo dalam pidatonya saat peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Prabowo menilai skema pembagian hasil yang selama ini berlaku belum adil bagi para pengemudi. Tentu tujuannya untuk melindungi hak para pengemudi ojol yang setiap hari bekerja keras dan menghadapi risiko di jalan.
Pendapat Para Pengemudi Ojol
Di tengah wacana keterlibatan Danantara dalam industri aplikator ini, respons pengemudi di lapangan cenderung pragmatis. Yunesi yang sudah 10 tahun bekerja sebagai pengemudi ojol dari Grab mengaku tidak tahu menahu soal rencana tersebut.
Namun, ia tidak terlalu mempersoalkan siapa yang masuk sebagai pemegang saham, selama kebijakan yang dihasilkan berpihak pada mereka.
“Saya nggak tahu soal itu, sih. Tapi ya kalau tujuannya mensejahterakan kami ya nggak masalah, setuju aja,” ucapnya di Monas, Jakarta, Jumat (1/5/2026) diwawancarai oleh redaksi menalar.id.
Keduanya menggantungkan penghasilan utama dari pekerjaan sebagai ojol, sehingga besaran potongan komisi menjadi hal yang paling mereka rasakan dampaknya.
Yunesi mengaku dengan adanya potongan 20 persen, dalam sehari ia hanya bisa menghasilkan Rp150 ribu. Padahal Yunesi bekerja dari pagi hingga malam, namun hasilnya kurang dari cukup.
“Ya saya tekor dari pagi sampe malem cuma dapat Rp150 ribu, apalagi sekarang ada paket murah. Wah, itu dapetnya kecil banget,” lirih Yunesi.
Senada dengan itu, Marta yang merupakan pengemudi shopeefood juga merasa berat dengan potongan hingga 20 persen dari perusahaan. Maka, ia menilai keterlibatan pemerintah melalui Danantara bukan menjadi persoalan utama, selama ada perubahan nyata pada pendapatan pengemudi.
“Siapa pun yang terlibat nggak masalah, asal potongan aplikatornya turun. Soalnya itu yang paling kerasa buat kami sehari-hari,” kata Marta.
Marta berharap kebijakan yang pemerintah ambil tidak berhenti pada wacana, tetapi benar-benar berpihak pada kesejahteraan pengemudi.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
