Prabowo Gabung Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump, Dorong Two State Solution
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Jum, 23 Jan 2026

menalar.id,. – Presiden Prabowo Subianto menghadiri sesi peluncuran Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza, Kamis (22/1/2026). Dewan tersebut pertama kali dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dalam agenda tersebut, Prabowo turut menandatangani piagam Dewan Perdamaian bersama sejumlah pemimpin dunia. Donald Trump memimpin langsung pengenalan Dewan Perdamaian itu di sela annual meeting World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2025).
Berdasarkan tayangan dari kanal YouTube resmi Gedung Putih, Prabowo tampak mengenakan kopiah hitam dan setelan jas abu-abu. Ia duduk di barisan depan bersama para kepala negara lainnya yang hadir dalam forum tersebut.
Panitia acara kemudian memanggil para pemimpin negara secara bergantian untuk menandatangani piagam Dewan Perdamaian. Pada kesempatan itu, Prabowo menandatangani piagam secara bersamaan dengan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban.
Trump menyampaikan bahwa kehadiran para pemimpin dunia tersebut menunjukkan keinginan bersama untuk mengakhiri perang di Gaza.
“Mereka menjadi teman saya, mereka berada di sini, dan tentu saja perang di Gaza yang benar-benar akan berakhir. Kita memiliki beberapa api kecil yang akan kita matikan Tadinya itu merupakan api yang besar tapi sekarang mereka kecil, jadi kita bisa matikan dengan mudah,” kata Trump.
Trump juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 59 negara yang terlibat dalam upaya perdamaian di Timur Tengah. Meskipun tidak seluruh negara tersebut berada di kawasan tersebut.
Dalam keterangan resmi Sekretariat Presiden, Indonesia menyatakan keikutsertaannya dalam Dewan Perdamaian Gaza untuk memastikan proses transisi di Gaza tetap mengarah pada solusi dua negara atau two state solution. Prabowo menegaskan agar mekanisme tersebut tidak berubah menjadi pengaturan permanen yang mengabaikan hak-hak rakyat Palestina.
Selain itu, Indonesia akan memanfaatkan partisipasinya untuk secara aktif menyuarakan posisi prinsipil terkait penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, pembukaan akses kemanusiaan, serta pemulihan tata kelola sipil Palestina yang sah dan legitimate.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
