Rerata Nilai TKA 2025 Anjlok, Bahasa Inggris Hanya 24,93
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Rab, 24 Des 2025

Siswa mengikuti tes kemampuan akademik di SMAN 78 Jakarta, Selasa (4/11/2025). Sebanyak 3.526.494 siswa kelas XII SMA/SMK/MA sederajat di Indonesia mengikuti tes kemampuan akademik (TKA) yang berlangsung sejak Senin (3/11/2025). Pada pelaksanaan TKA, peserta menjalani ujian Bahasa Indonesia (45 menit), Matematika (50 menit), dan Bahasa Inggris (45 menit). Setelah itu, dilanjutkan dengan mata pelajaran pilihan pertama (60 menit) dan mata pelajaran pilihan kedua (60 menit) yang relevan dengan rencana pilihan kuliah di perguruan tinggi. Tes untuk mengukur pencapaian akademik siswa ini tak wajib bagi siswa kelas XII karena tidak berdampak pada kelulusan. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 04-11-2025
menalar.id., – Tes Kemampuan Akademik 2025 telah diumumkan, Selasa (23/12/2025). Namun, nilai rata-rata mata pelajaran (mapel) wajib untuk siswa SMA/SMK mengalami penurunan tajam.
Tiga mapel wajib, superti bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris tercatat capaian yang jauh dari ideal. Penurunan paling drastis terlihat pada nilai matematika dan bahasa Inggris.
Rata-Rata Nilai TKA
Data capaian nasional menunjukkan, rata-rata nilai bahasa Inggris hanya mencapai 24,93 dari 3.509.688 siswa. Nilai matematika wajib berada di angka 36,10 dari 3.489.148 siswa. Sementara bahasa Indonesia mencatat rata-rata 55,38 dari 3.477.893 siswa.
Apabila dilihat lebih rinci, capaian nilai TKA jenjang SMA menunjukkan rata-rata bahasa Indonesia 57,39, matematika 37,23, dan bahasa Inggris 26,71.
Sementara itu, siswa SMK mencatat rata-rata nilai bahasa Indonesia 53,62, matematika 34,74, dan bahasa Inggris 22,55. Bahkan rata-rata nilai yang anjlok ini mengejutkan banyak pihak.
Pasalnya, TKA selama ini dianggap merefleksikan standar kualitas akademik. Sekaligus tingkat pemahaman siswa terhadap mata pelajaran yang dipelajari selama bersekolah.
Respons Pusat Asesmen Kemendikdasmen
Pelaksanaan TKA 2025 juga tidak lepas dari berbagai pelanggaran, termasuk dugaan kebocoran soal. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati, mengungkap sejumlah pelanggaran yang sempat viral di media sosial.
Salah satunya yaitu peserta melakukan siaran langsung saat ujian berlangsung. Hal itu ia sampaikan saat acara Taklimat Media Laporan Pelaksanaan TKA Jenjang SMA 2025 dan Persiapan TKA Jenjang SD & SMP 2026 di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).
“Jadi memang ada beberapa jenis pelanggaran yang sangat viral. Ada murid yang selama pelaksanaan TKA hari pertama, sesi pertama di pagi hari melakukan live TikTok dan dengan sengaja pada live TikTok tersebut bukan menunjukkan dirinya, tapi menunjukkan layar komputer,” ucap Rahmawati.
Sejumlah Pelanggaran TKA SMA 2025 melibatkan siswa peserta, pengawas, hingga pihak luar. Pelanggaran oleh siswa meliputi:
- Empat kasus untuk penggunaan gawai saat ujian
- Delapan kasus live streaming saat pengerjaan
- Tiga kasus penjualan soal TKA, serta
- Upaya pembocoran soal melalui berbagai platform media sosial
Untuk pembocoran soal di media sosial, yaitu 11 kasus usaha pembocoran melalui TikTok tercatat, 28 kasus melalui grup WhatsApp, satu kasus melalui platform X, dan lima kasus pemberitaan usaha pembocoran soal di grup WhatsApp melalui platform X.
Sementara itu, pelanggaran oleh pengawas atau teknisi mencakup 6 kasus live streaming saat pengerjaan TKA, satu kasus teknisi atau proktor yang memperbolehkan peserta menggunakan gawai, serta satu kasus tersebarnya dashboard pengawas. Dari pihak luar, tercatat tiga kasus pembuatan konten latihan soal yang menggunakan soal TKA yang tersebar setelah pelaksanaan ujian.
Kesulitan Saat Mengerjakan Tugas
Kemudian, Rahmawati memaparkan sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya nilai bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa soal bahasa Inggris berbentuk teks naratif dan deskriptif dengan panjang sekitar empat hingga lima paragraf.
“Bahasa Inggris ini dalam bentuk teks yang sifatnya naratif dan deskriptif dengan jumlah paragraf sekitar 4 sampai 5, anak-anak kita ini biasanya akan sukses menjawab ketika itu keluar di paragraf pertama gitu ya,” kata Rahmawati.
Namun, kemampuan siswa menurun ketika soal menuntut pemahaman inferensial. Banyak siswa belum mampu menarik kesimpulan dari keseluruhan teks.
“Di mana tidak bisa ditemukan hanya di salah satu paragraf, harus membaca tuntas dari paragraf 1 sampai 4 atau 5, di sinilah kami menemukan tingkat kesukaran soal langsung menjadi lebih sukar gitu,” tambahnya.
Ia juga menemukan bahwa siswa kesulitan menilai validitas informasi. Terutama karena bahasa pengantar soal menggunakan bahasa Inggris.
“Termasuk pada wacana yang sifatnya non-teks ya yang sifatnya infografis, ada gambar-gambar, ada tips and trick ini ternyata juga kesulitan ketika sudah pada level inferensial merefleksi dan juga melakukan evaluasi. Itu untuk Bahasa Inggris,” katanya.
Alasan Kesulitan Murid
Untuk mata pelajaran matematika, Rahmawati menilai konten soal sebenarnya sederhana. Namun, pola pertanyaan yang digunakan berbeda dari yang biasa ditemui siswa di sekolah.
“Misalnya kalau tentang data dan peluang, biasanya kita langsung ini ada 5 data berapakah rata-ratanya? Seperti itu. Tetapi kemarin ada salah satu butir soal yang memang divariasikan lintas zona dan sesi itu ada lima data semuanya bilangan cacah dengan jumlah total data itu kalau dijumlahkan 30 jadi itu seperti hitungan anak SD sebenarnya ya 5 data 30 rata-ratanya 6,” beber Rahmawati.
“Tapi pertanyaannya bukan seperti itu, pertanyaannya adalah kalau dua data itu kosong kemudian ada syarat dan ketentuan yang berlaku, misalnya produksinya minimal berapa setiap harinya, setiap hari memproduksinya tidak pernah sama, ternyata anak-anak kita mungkin tidak terbiasa mengkaitkan data yang tertera di tabel dengan syarat dan ketentuan yang berlaku secara pointer naratif,” sambungnya.
Dari temuan tersebut, Rahmawati menyimpulkan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengaitkan data dengan ketentuan yang disajikan dalam bentuk narasi. Meskipun ketentuannya menggunakan kalimat sederhana.
DPR Turut Merespons
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menilai capaian nilai TKA 2025 harus menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan nasional.
“Hasil TKA 2025 ini harus menjadi alarm sekaligus bahan evaluasi total bagi dunia pendidikan kita,” kata Lalu, melansir Antara.
Ia menegaskan bahwa evaluasi harus dilakukan secara objektif dan menyeluruh, baik dari sisi tenaga pendidik maupun peserta didik.
“Jika kesalahan atau kelemahan ada pada guru, maka peningkatan kualitas guru harus benar-benar ditingkatkan. Sebaliknya, jika kekurangan ada pada siswa, maka peningkatan kualitas dan pendampingan terhadap siswa juga harus digalakkan,” ujarnya.
Komisi X DPR RI pun mendorong Kemendikdasmen agar menjadikan hasil TKA sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan ke depan. Dengan menyempurnakan kurikulum, metode pembelajaran, hingga sistem pelatihan guru.
“Intinya, hasil TKA ini jangan berhenti sebagai laporan, tetapi harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret agar kualitas pendidikan nasional benar-benar meningkat di masa mendatang,” kata dia.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
