Harga BBM akan Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah
- account_circle Farrel Aditya
- calendar_month 4 jam yang lalu

menalar.id,.- Konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat berdampak pada melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
“Otomatis (harga BBM) akan naik, sama seperti saat perang Ukraina, tetapi kan kali ini suplai dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) juga meningkatkan kapasitasnya,” ujarnya, dikutip Tempo, Senin (2/2/2026).
Airlangga menjelaskan tiga dampak langsung yang akan Indonesia hadapi akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Diantaranya suplai minyak yang terganggu, transportasi logistik, dan sektor pariwisata.
Serangan di Jalur Selat Hormuz Goncang Harga Minyak
Harga minyak dunia melonjak setelah setidaknya tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut dilaporkan mengangkut sekitar 20% minyak dan gas dunia.
“Dua kapal telah terkena serangan, dan sebuah ‘proyektil tak dikenal’ dilaporkan ‘meledak sangat dekat’ dengan kapal ketiga,” ujar Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), dikutip BBC.
Pengiriman minyak internasional hampir terhenti di pintu masuk selat. Para analis memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat mendorong harga minyak yang terus melonjak tinggi.
Mengutip Reuters, Senin (2/3/2026), harga minyak mentah Brent terakhir naik 8,3% menjadi 78,5 dolar AS per barel, meskipun sempat menyentuh level 82,00 dolar AS, sementara minyak mentah AS naik 7,5% menjadi 72,02 dolar AS per barel.
Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair.
Meski Selat Hormuz belum sepenuhnya ditutup, data pelacakan pelayaran menunjukkan banyak kapal tanker tertahan di kedua sisi selat karena risiko serangan dan kendala asuransi.
“Dampak paling nyata bagi pasar minyak adalah terhentinya arus sekitar 15 juta barel minyak per hari dari kawasan tersebut,” ucap Jorge Leon dari Rystad Energy, dikutip RMOL.id.
Berdasarkan laporan detikfinance, adapun lonjakan harga minyak yang berkepanjangan ini berisiko memicu kembali tekanan inflasi secara global, sekaligus bertindak sebagai pajak bagi bisnis dan konsumen yang dapat meredam permintaan.
OPEC+ menyetujui peningkatan produksi minyak yang moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan April pada hari Minggu, tetapi sebagian besar produk tersebut masih harus dikeluarkan dari Timur Tengah melalui kapal tanker.
Konflik yang Belum Usai
Konflik ini diperkirakan akan berlangsung cukup lama. Perang dimulai antara Iran dan Israel yang melayangkan serangan terhadap satu sama lain, sejak Minggu (1/2/2026). Serangan tersebut terjadi usai tewasnya pemimpin tertinggi negara Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu lalu.
Tragedi tersebut memicu serangan balasan oleh beberapa negara Timur Tengah. Serangan-serangan itu terjadi di Dubai UEA, ibu kota Qatar, Doha, Bahrain, dan Kuwait.
Penulis Farrel Aditya
Seorang pemuda dengan minat terhadap banyak hal dan penuh pertanyaan dalam benaknya. Berharap mampu memberikan dampak positif melalui tulisannya.
