SBY: “Ada Indikasi Perang Dunia Ketiga”, Usulkan PBB Gelar Sidang Darurat
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Sel, 20 Jan 2026

menalar.id,. – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan jika ada potensi perang dunia ketiga akibat konflik geopolitik dunia. Ia menilai eskalasi ketegangan antarnegara dapat menyeret dunia ke arah perang berskala besar, termasuk penggunaan senjata nuklir.
Karena itu, SBY mengaku cemas dan berharap perang tidak pernah terjadi.
“Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi,” kata SBY dalam unggahannya di media sosial X @SBYudhoyono, Senin (19/1/2026).
Indikasi Perang
Berdasarkan pengamatannya, SBY menilai kondisi global saat ini menunjukkan banyak kemiripan dengan situasi menjelang Perang Dunia Pertama (1914–1918) dan Perang Dunia Kedua (1939–1945). Ia melihat kemunculan para pemimpin kuat dengan kecenderungan agresif bersamaan pembentukan blok-blok kekuatan negara yang saling berhadapan.
Selain itu, SBY juga menyoroti masifnya pembangunan kekuatan militer di berbagai negara. Menurutnya, negara-negara besar kini tidak hanya memperkuat persenjataan.
Tetapi juga menyiapkan ekonomi dan mesin perang mereka, sementara dinamika geopolitik global terus memanas.
“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” tulis SBY.
Usulkan PBB Gelar Sidang Darurat
Sebagai langkah pencegahan, SBY mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil inisiatif konkret. Ia mengusulkan agar PBB menggelar persidangan umum darurat yang melibatkan para pemimpin dunia guna meredam potensi konflik global.
“Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly),” kata SBY.
“Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru,” sambungnya.
Meski demikian, SBY menyadari bahwa PBB memiliki keterbatasan dalam menghentikan konflik global yang kompleks dan sarat kepentingan politik.
“Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” tegas SBY.
Ia menambahkan, seruan dari para pemimpin dunia mungkin saja tidak langsung mendapat respons nyata dari negara-negara yang berseteru. Namun, ia menilai upaya tersebut tetap penting sebagai langkah awal membangun kesadaran kolektif global.
“Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu ‘bagai berseru di padang pasir’. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way,” sambungnya.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
