Bahlil Pangkas Target Produksi Batu Bara, Apa Alasannya?
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Jum, 23 Jan 2026

menalar.id,. – Pemerintah memutuskan memangkas target produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan batu bara di pasar global.
Dalam rencana tersebut, pemerintah menurunkan target produksi batu bara 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Angka ini turun sekitar 190 juta ton, sementara realisasi produksi batu bara pada 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Pasokan Batu Bara Hingga 514 Juta Ton
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan Indonesia saat ini memasok sekitar 514 juta ton batu bara atau setara 43%. Angka tersebut merupakan total volume perdagangan batu bara dunia yang mencapai 1,3 miliar ton per tahun.
Kondisi ini pun menjadi salah satu penyebab utama melemahnya harga batu bara global.
“Tahu gak berapa Indonesia suplainya? 516 juta ton, 43% dari total batubara yang diperjualbelikan di pasar global. Pertanyaannya, kenapa harga batubara turun terus?,” kata Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Jumat (23/1/2026) melansir CNBC Indonesia.
Kemudian, ia mempertanyakan posisi Indonesia yang belum mampu memengaruhi pembentukan harga. Padahal, Indonesia sebagai salah satu pemain utama di pasar batu bara dunia.
Lalu, Bahlil juga menyoroti fakta meskipun Indonesia menguasai pangsa pasar besar, kendali harga justru berada di tangan pihak lain.
“Saya malah berpikir, mungkin saya sekolah tidak ada di Google ya, sampai masa produksi market 43% kita kuasai, harganya dikendalikan oleh orang lain. Negara kita ini berdaulat atau tidak? Maka saya katakan pangkas RKAB, ini kan hukum supply and demand,” ujar Bahlil.
Langkah Pemerintah
Atas dasar itu, pemerintah mengambil langkah memangkas RKAB produksi batu bara untuk mengendalikan pasokan di pasar. Pemerintah menilai kelebihan pasokan di tengah permintaan yang tidak terlalu besar berpotensi terus menekan harga.
“Menurut saya kalau ini kita biarkan, kita gagal paham semua. Terus kita harus menggali sumber dalam kita, seolah-olah kita ini saja memiliki negara ini,” katanya.
Di sisi lain, Bahlil menyadari kebijakan pemangkasan RKAB berisiko memicu penolakan dari pelaku usaha batu bara. Meski demikian, ia menegaskan tidak akan mundur demi kepentingan nasional.
“Saya tahu ini pasti banyak orang yang membenci saya. Karena RKAB-nya akan dipotong. Tapi untuk Ibu Pertiwi, saya tidak akan mundur, jangankan selangkah, sejengkal pun saya tidak akan mundur. Dan saya akan hadapi semuanya,” ujar Bahlil.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
