Breaking News

82% Warga Tuvalu Berebut Visa Iklim ke Australia, Negara Terancam Tenggelam

  • account_circle Nazula Destiyana
  • calendar_month Kam, 24 Jul 2025

menalar.id – Sebanyak 82 persen atau sekitar 10.643 jiwa dari total populasi Tuvalu, dilaporkan telah mendaftar untuk mendapatkan visa iklim agar dapat pindah ke Australia. Hal ini, dilakukan akibat adanya ancaman dari permukaan air laut yang semakin naik.

Lonjakan pendaftaran ini terjadi karena Australia menyediakan visa iklim khusus bagi warga Tuvalu setiap tahunnya. Program ini merupakan bagian dari perjanjian migrasi iklim antara kedua negara, yakni kesepakatan visa iklim pertama di dunia.

Visa Iklim

Melalui visa ini, warga Tuvalu diizinkan tinggal, bekerja, dan belajar di Australia, serta memperoleh akses layanan kesehatan dan pendidikan setara dengan penduduk lokal. Namun, jumlahnya sangat terbatas, hanya 280 visa yang disediakan per tahun.

“Minat terhadap visa ini luar biasa tinggi. Terdapat 8.750 aplikasi termasuk anggota keluarga dari pendaftar utama. Sebagian besar tidak akan mendapatkan visa karena keterbatasan kuota,” ungkap Komisi Tinggi Australia untuk Tuvalu, Rabu (23/7/2025).

Pendaftaran yang dibuka sejak Juni lalu telah ditutup pada 18 Juli 2025. Tuvalu selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Penyebab Permukaan Laut Tuvalu Naik

Para ilmuwan memprediksi negara ini mungkin tidak dapat dihuni lagi dalam 80 tahun ke depan. Dua dari sembilan atolnya sudah sebagian besar hilang karena naiknya permukaan laut. Atol-atol ini terletak di antara Australia dan Hawaii.

NASA bahkan memperkirakan bahwa pada tahun 2050, separuh wilayah Funafuti yang memiliki atol utama dan dihuni 60 persen warga Tuvalu akan tergenang air setiap hari jika permukaan laut naik 1 meter. Apabila kenaikan mencapai 2 meter, maka 90 persen Funafuti akan terendam.

Selama tiga dekade terakhir, permukaan laut di Tuvalu sudah naik 15 cm, 1,5 kali lebih cepat dari rata-rata global. Meski telah membangun 7 hektare lahan buatan dan berencana menambah lagi, harapan agar wilayah itu tetap muncul di peta hingga 2100 kian menipis.

Kabar lonjakan pemohon visa iklim ini dirilis bersamaan dengan keputusan penting Mahkamah Internasional di Den Haag. Haag menyatakan bahwa negara-negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah perubahan iklim dan mempertanggungjawabkan dampaknya.

Perjanjian Falepili

Gugatan yang dilayangkan oleh negara-negara Pasifik ini bisa menjadi tonggak baru dalam perjuangan keadilan iklim global. Australia dan Tuvalu sendiri memiliki perjanjian bilateral yang disebut Falepili Union.

Perjanjian ini ditandatangani pada 2023 dan mulai berlaku 2024. Hal ini, dinilai sebagai langkah strategis Australia untuk menyaingi pengaruh China di kawasan Pasifik.

Salah satu isi pakta tersebut adalah pembukaan jalur visa eksklusif bagi warga Tuvalu, diundi secara acak. Departemen Luar Negeri Australia menyebut perjanjian ini sebagai respons konkret terhadap dampak iklim terhadap kehidupan masyarakat di Pasifik.

“Ini adalah perjanjian visa iklim pertama di dunia, menyediakan jalur mobilitas yang aman di tengah ancaman krisis iklim,” bunyi pernyataan itu.

Falepili Union juga mengikat Australia secara hukum untuk memberikan bantuan kepada Tuvalu dalam kondisi darurat. Berlaku saat bencana alam, pandemi, hingga ancaman militer.

Perdana Menteri Tuvalu Merespons

Perdana Menteri Tuvalu saat itu Feleti Teo, berterima kasih karena untuk pertama kalinya sebuah negara bersedia mengakui kenegaraan dan kedaulatan Tuvalu di tengah ancaman lenyapnya wilayah mereka akibat kenaikan air laut. Namun, perjanjian itu juga menuai kekhawatiran.

Salah satu pasalnya memberikan hak kepada Australia untuk ikut campur dalam pakta pertahanan yang dibuat Tuvalu dengan negara lain. Karena ini, timbul perdebatan apakah Tuvalu sedang mempertaruhkan kedaulatannya demi perlindungan eksistensial.

Penulis

Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nasib Pemberantasan Korupsi di Bawah RUU KUHAP Baru

    Nasib KPK di Bawah RUU KUHAP Baru

    • calendar_month Sen, 14 Jul 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan keprihatinannya terhadap draft Revisi Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) yang dinilai akan membatasi kewenangan penyelidik lembaga antirasuah tersebut. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa dalam RUU tersebut, penyelidik hanya akan memiliki kewenangan untuk mencari peristiwa tindak pidana. Padahal, selama ini penyelidik KPK juga berwenang mengumpulkan […]

  • Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan jika ada sekitar 120 ribu penderita penyakit katastropik yang dihapus dari daftar Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN).

    54 Juta Warga Belum Punya BPJS, Sedangkan Pasien Katastropik Cuma Direaktivasi 3 Bulan

    • calendar_month Sen, 9 Feb 2026
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan jika ada sekitar 120 ribu penderita katastropik yang dihapus dari daftar Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN). Karena hal itu, Budi pun mengusulkan pemerintah untuk mereaktivasi kepesertaan 120 ribu anggota tersebut. Budi memaparkan, dari total 120 ribu orang tersebut, sekitar 12.262 orang memiliki riwayat […]

  • Kasus Kematian Jurnalis Situr Wijaya: Keluarga Siapkan Langkah Hukum

    Situr Wijaya Jurnalis Palu: Keluarga Siapkan Langkah Hukum Dugaan Pembunuhan

    • calendar_month Sen, 7 Apr 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Situr Wijaya, jurnalis asal Palu, tewas di hotel Dparagon, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pihak keluarga masih menunggu hasil autopsi jenazah untuk menentukan langkah selanjutnya terkait dengan kematian tak wajar wartawan media online Insulteng.id tersebut. Menurut Ketua PWI Peduli Sulteng yang biasa dipanggil Heru itu. Istri almarhum, Selvianti, berpesan jika hasil autopsi menunjukkan penyebab kematian […]

    • calendar_month Rab, 28 Jan 2026
    • account_circle Farrel Aditya
    • 0Komentar

    menalar.id,.- Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan tindakan tegas bagi seluruh SPPG di Indonesia yang kedapatan menolak pasokan bahan dari UMKM, peternak, nelayan, dan petani lokal untuk pemenuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, mengatakan bahwa setiap SPPG perlu merangkul UMKM, pertanian, peternakan, dan […]

  • Cekcok karena Makanan Terlambat, Driver ShopeeFood Jadi Korban Penganiayaan

    Cekcok karena Makanan Terlambat, Driver ShopeeFood Jadi Korban Penganiayaan

    • calendar_month Ming, 6 Jul 2025
    • account_circle Nisrina
    • 0Komentar

    menalar.id- Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah driver ShopeeFood mendatangi sebuah rumah di Kapanewon Godean, Sleman, viral di media sosial. Mereka datang pada Sabtu (5/7/2025), sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama driver yang sebelumnya dianiaya pelanggan. Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Wahyu Agha Ari Septyan, menyebut insiden ini bermula dari pesanan makanan yang diantar pada (3/7) lalu. […]

  • Menkes: Kasus Keracunan MBG akan Dilaporkan Rutin Seperti Covid-19

    Menkes: Kasus Keracunan MBG akan Dilaporkan Rutin Seperti Covid-19

    • calendar_month Kam, 2 Okt 2025
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 0Komentar

    menalar.id – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menyiapkan sistem pelaporan kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut mekanisme itu akan menyerupai laporan kasus Covid-19 pada masa pandemi. Kemudian, Budi menjelaskan bahwa pemerintah akan membuat standarisasi laporan agar angka kasus keracunan MBG seragam. “Jadi kalau teringat ini seperti teringat (saat pandemi) Covid dulu,” […]

expand_less