Keracunan MBG di SMK Semarang, Sudaryono: “SPPG Harus Bertanggung Jawab!”
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month 1 jam yang lalu

menalar.id,. – Badan Gizi Nasional (BGN) kembali mengoperasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai sebelumnya berhenti sementara. Namun belum setengah jalan dilewati, kasus keracunan oleh para siswa terjadi di sejumlah daerah.
Salah satunya di SMK Negeri 6 Semarang yang menumbangkan sebanyak 693 siswa dan 14 guru. Merespons hal tersebut, Kepala BGN Sudaryono menyampaikan jika SPPG yang membuat MBG untuk SMK Negeri 6 Semarang tidak menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Sudaryono menyatakan SPPG tersebut memulai masak dari pukul 21.00 WIB, sehingga MBG rentan basi dan bau akibat waktu konsumsi terlampau lama.
Padahal jika mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP), aturan waktu memasak MBG dapat dimulai dari pukul 02.00-03.00 dini hari.
“Kita lihat dari hasil laporannya itu kan memang tidak sesuai SOP. Misalnya masaknya harusnya kan mulai paling tidak pukul 02.00 atau pukul 03.00 (dini hari), ini pukul 21.00 (malam) sudah masak,” kata Sudaryono, pada Senin (3/8/2026) melansir dari Kompascom.
Maka dari itu, Sudaryono meminta pertanggung jawaban dari pemimpin SPPG karena melanggar standar keamanan pangan dan wajib menerapkan kebijakan zero tolerance.
“Kepala Dapur itu adalah pemimpin di dapur itu. Jadi baik, buruk, bagus, prima dan tidaknya itu tergantung leadership. Seorang Kepala SPPBG maka diwajibkan untuk dapurnya itu tidak boleh zero tolerance terhadap keracunan,” jelasnya.
Sementara itu, BGN sendiri telah mencopot jabatan 137 kepala SPPG di Indonesia usai melanggar standar yang ada. Tak terkecuali kepala SPPG yang melayani MBG di SMK Negeri 6 Semarang ini.
“Yang di Semarang itu termasuk Kepala SPPG yang dapurnya menimbulkan kasus keracunan di SMK Negeri 6 Semarang,” ucap dia.
Selain itu, Sudaryono menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap SPPG yang melanggar dan menyeleweng dalam bentuk apapun.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
