Eks Gubernur BI Ungkap Ekonomi Negara Terjebak Inersia
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Jum, 30 Jan 2026

menalar.id,. – Board of Advisors Prasasti Institute sekaligus eks Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah membeberkan alasan ekonomi Indonesia yang semakin hari semakin loyo. Meski demikian, Burhanuddin menilai Indonesia berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% selama lebih dari satu dekade.
I menegaskan capaian tersebut sekaligus menunjukkan keterbatasan ekonomi nasional dalam mendorong akselerasi pertumbuhan ke level yang lebih tinggi. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai gejala inersia dalam perekonomian Indonesia.
“Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas. Tantangan kita bukan kurangnya pertumbuhan, melainkan bagaimana keluar dari pola yang membuat pertumbuhan sulit dipercepat,” kata Burhanuddin dalam Prasasti Economic Forum 2026, Kamis (29/1/2026).
Pemerintah Perlu Mengambil Kebijakan Berani
Untuk keluar dari kondisi inersia tersebut, Burhanuddin menekankan perlunya keberanian dalam pengambilan kebijakan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kualitas koordinasi lintas sektor. Ia menyebut kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan sebagai fondasi utama untuk mendorong investasi, inovasi, dan keberanian mengambil risiko produktif.
Respons Gundy Cahyadi
Pada kesempatan yang sama, Research Director Prasasti Gundy Cahyadi memaparkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 yang diperkirakan tetap berada di kisaran 5,0 hingga 5,3%.
Prasasti mendasarkan proyeksi tersebut pada sejumlah faktor utama. Pertama, konsumsi domestik yang membaik seiring stabilisasi kepercayaan konsumen. Meskipun peluang percepatan pertumbuhan masih terbatas.
Kedua, efektivitas dan kualitas pelaksanaan kebijakan fiskal akan menjadi faktor penentu, terutama penerimaan negara yang relatif terbatas. Ketiga, pemerintah dan pelaku ekonomi perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah secara hati-hati.
“Pelemahan rupiah di satu sisi dapat memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor, namun pada saat yang sama berpotensi menahan laju investasi, khususnya pada sektor-sektor yang bergantung pada impor barang modal,” jelas Gundy.
Dalam konteks tersebut, Gundy menekankan pentingnya memperkuat investasi sebagai mesin pertumbuhan jangka menengah dan panjang. Ia juga menyoroti perlunya percepatan transformasi struktural guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas perekonomian nasional.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
