Trump: Perusahaan AS Akan Segera Mengebor Minyak Venezuela
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Jum, 23 Jan 2026

menalar.id – Presiden Donald Trump menegaskan sejumlah perusahaan Amerika Serikat (AS) segera memulai aktivitas pengeboran minyak di Venezuela. Hal itu ia sampaikan dalam perjalanan pulang ke Washington, DC, setelah dari Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
“Kita akan segera mulai mengebor,” kata Trump.
Trump mengklaim AS memiliki perusahaan-perusahaan terbesar di dunia yang siap terlibat dalam proyek tersebut.
“Kita memilikinya, dan mereka akan masuk. Mereka semua sedang bernegosiasi saat ini,” ujarnya.
Pada hari yang sama, parlemen Venezuela menyetujui rencana untuk mempermudah keterlibatan perusahaan asing di sektor minyak sebagai respons atas tuntutan Trump. Langkah ini membuka jalan bagi masuknya investor asing, termasuk perusahaan minyak asal AS.
Rencana Pemerintah Venezuela
Anggota parlemen Venezuela Orlando Camacho menjelaskan jika reformasi sektor hidrokarbon merupakan target Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Namun, sementara Delcy Rodríguez memberikan hak pengelolaan ladang minyak kepada perusahaan asing dengan skema risiko dan pembiayaan ditanggung sendiri.
Pemerintah Venezuela mengumumkan rencana tersebut pekan lalu dan kini parlemen tengah membahasnya. Majelis Nasional Venezuela juga memberikan persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang reformasi tersebut.
Selanjutnya, parlemen akan membawa RUU ini ke tahap pembahasan kedua sebelum mengesahkannya.
“Minyak di bawah tanah tidak ada gunanya,” kata Presiden Majelis Nasional Jorge Rodríguez, melansir CNN Indonesia.
Ia menilai cadangan minyak besar tidak akan berdampak jika hambatan struktural terus menghalangi peningkatan produksi.
“Apa gunanya mengatakan bahwa kita memiliki cadangan minyak terbesar di planet ini jika kondisi … menghalangi proses percepatan produksi, menuju peningkatan produksi minyak? Dan kita harus melakukannya, dan melakukannya sekarang,” imbuhnya.
Tambahan Undang-Undang
Selain itu, parlemen Venezuela turut menyetujui tambahan undang-undang. Tujuannya untuk memperkuat perlindungan hukum bagi pelaku usaha.
Perlindungan ini menjadi salah satu syarat utama perusahaan AS sebelum menanamkan modal di Venezuela. Sumber industri menyebutkan sejumlah eksekutif perusahaan minyak AS masih enggan masuk ke Venezuela.
Ketakutannya tersebut lahir dari keamanan serta ketidakpastian politik dan ekonomi.
“Minat untuk masuk ke Venezuela saat ini cukup rendah. Kami tidak tahu seperti apa pemerintah di sana nanti,” ujar salah satu sumber industri yang memiliki posisi strategis kepada CNN awal bulan ini.
Sebagai Informasi, Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Meski demikian, perusahaan minyak menyatakan mereka membutuhkan kepastian operasional jangka panjang sebelum berinvestasi di proyek pengeboran yang berada di wilayah terpencil.
Selama hampir dua dekade, perusahaan minyak negara PDVSA menguasai mayoritas sektor minyak Venezuela. Pemerintah selama ini membatasi keterlibatan perusahaan asing hanya melalui skema usaha patungan dengan perusahaan publik.
Kesepatan dengan Gedung Putih
Dengan membuka akses bagi perusahaan minyak asal AS, kebijakan ini memenuhi salah satu tuntutan utama pemerintahan Trump terkait keterlibatan langsung perusahaan AS di sektor energi Venezuela. Sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan kesepakatan penjualan minyak mentah Venezuela senilai US$500 juta atau sekitar Rp8 triliun antara Caracas dan Washington.
Kemudian, Presiden sementara Delcy Rodríguez menyatakan Venezuela telah menerima US$300 juta atau sekitar Rp4,8 triliun dari total nilai kesepakatan tersebut, Selasa (20/1/2026).
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
