Pemprov DKI Jakarta Bongkar Tiang Monorel, Sutiyoso Beri Tanggapan
- account_circle Azka Al Ath-Har
- calendar_month Rab, 14 Jan 2026

menalar.id., – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan instruksi untuk membongkar tang monorel yang mangkrak selama 22 tahun di Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Pembongkaran tersebut menjadi akhir dari gagasan pada awal 2000 yang merupakan bukti ketidakpastian kebijakan pemerintah setempat.
Mengutip Tempo, Mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Sutiyoso mengatakan bahwa ia senang akhirnya pemerintah memberikan kepastian terhadap pembangunan yang mangkrak. Ia menambahkan bahwa tiang monorel yang terbengkalai mengganggu pandangannya.
“Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang ditanamkan oleh Pak Gubernur Pramono,” ungkapnya di Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Pemprov menggagas pembangunan monorel pada 2003 saat menyusun strategi besar penanggulangan kemacetan. Pemerintah daerah kemudian menghimpun para pakar transportasi untuk merancang jaringan transportasi makro Jakarta melalui proses berbulan-bulan hingga melakukan studi banding, termasuk ke Kolombia, Filipina, dan Thailand karena pemerintah menganggap memiliki persoalan lalu lintas yang serupa.
Mengutip Detiknews, Sutiyoso kemudian menyadari kondisi sosial-ekonomi pada 1998 setelah terjadi kerusuhan yang membuat berkurangnya kepercayaan investor terhadap rencana pembangunan tesebut. Ia memutuskan untuk membangun busway karena merupakan transportasi yang tidak membutuhkan investor.
“Kalau semua menunggu kondisi sempurna, sampai hari raya kuda juga enggak jadi. Maka yang bisa langsung dikerjakan ya busway,” ujarnya.
Sutiyoso mengatakan pemerintah tetap menjalankan pembangunan monorel secara paralel dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri melanjutkan proyek tersebut dengan investor dari China pada 2004. Namun, setelah masa jabatan Gubernur Sutiyoso berakhir pada 2007, proyek tersebut terhenti dan kemudian mangkrak hingga meninggalkan struktur besi yang merusak estetika kota.
“Setelah itu saya tidak tahu lagi. Tahu-tahu mangkrak dan jadi besi tua yang merusak estetika kota,” katanya.
Ia menyatakan proyek monorel yang mangkrak lebih dari dua dekade kini hanya menyisakan pilihan untuk melanjutkan pembangunan atau membongkarnya. Ia menilai keputusan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk membongkar tiang monorel sebagai langkah paling realistis.
“Ini memang pilihan paling buruk, tapi harus dilakukan. Yang penting ada kepastian,” ujarnya.
Mengutip Kompas, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan pemerintah provinsi akan membongkar 109 tiang monorel hingga kawasan ujung Jalan HR Rasuna Said dengan biaya sebesar Rp254 juta. Pemprov DKI juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp102 miliar untuk penataan kawasan, meliputi perbaikan jalan, drainase, trotoar, taman, dan penerangan jalan.
“Ada 109 tiang monorel sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said, semuanya akan ditata rapi dan saya meyakini ini akan membuat jalan Rasuna Said menjadi jalan yang semakin baik dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang,” jelasnya.
Pemprov DKI Jakarta menargetkan seluruh proses penataan kawasan rampung pada September 2026. Pemerintah memastikan pembongkaran tiang monorel pada malam hari agar tidak mengganggu arus lalu lintas di salah satu koridor utama Jakarta.
Penulis Azka Al Ath-Har
Tumbuh di antara kegelisahan dan rasa ingin tahu, belajar melihat dunia lewat detail kecil yang sering luput dari perhatian. Tertarik pada isu sosial, budaya, dan kemanusiaan.
