Saat ini, Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat terus bekerja secara intensif guna menelusuri penyebab utama kejadian tersebut.
“Tim sudah berada di lapangan semenjak kejadian terdeteksi, mereka sedang melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti. Mohon semua pihak untuk bersabar dan menunggu informasi resmi,” katanya, Sabtu (31/1/2026).
Fransiskus menyampaikan pihaknya masih memverifikasi mitra penyelenggara MBG yang terlibat. Ia menegaskan belum dapat menyampaikan keterangan lebih lanjut sebelum hasil pemeriksaan laboratorium selesai.
“Kita tunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk kejelasan selanjutnya. Kami juga akan segera mengambil langkah antisipatif untuk memastikan keamanan program MBG di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Barat,” jelasnya.
Hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan
Sementara itu, Dinkes Manggarai Barat melaporkan hasil inspeksi kesehatan lingkungan eksternal pada lokasi dapur MBG dengan skor mencapai 94%. Nilai tersebut masuk kategori sangat baik dan telah memenuhi standar kesehatan lingkungan yang Dinkes tetapkan, yakni di atas 70%.
Hasil inspeksi tersebut menunjukkan kondisi sanitasi lingkungan secara umum berada dalam keadaan baik. Selain itu, petugas juga melakukan uji cepat terhadap kualitas air minum dan air bersih yang mereka gunakan dalam proses produksi makanan.
Bahkan, pemeriksaan menunjukkan hasil negatif terhadap bakteri E. coli dan Total Koliform. Sehingga ia mengklaim tidak mungkin air menjadi sumber dugaan keracunan.
Namun, petugas tidak dapat melakukan pemeriksaan sampel makanan karena dapur MBG tidak memiliki food sample bank dari produksi pada hari kejadian.
“Menyikapi temuan tersebut dan untuk mengutamakan prinsip kehati-hatian, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Manggarai Barat telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan produksi dan distribusi makanan dari fasilitas terkait,” ujar Kepala Dinkes Manggarai Barat Adrianus Ojo.
Meski begitu, pemerintah daerah tetap menutup sementara fasilitas tersebut hingga BGN bisa melakukan observasi internal dan seluruh protokol keamanan pangan telah selesai secara menyeluruh.
Ratusan Siswa Bertumbangan
Sebelumnya, sebanyak 132 murid dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami dugaan keracunan setelah makan MBG, pada Jumat (30/1/2026).
Para siswa yang terdampak menjalani perawatan di Puskesmas Golowelu dengan keluhan mual, muntah, dan nyeri perut.
“Jumlah siswa diduga keracunan MBG sebanyak 132 orang,” ungkap Adrianus, Sabtu (31/1/2026).
Adrianus menyebut kasus dugaan keracunan tersebut ada di sejumlah sekolah, yakni:
- SMAN 1 Kuwus: 42 murid
- SMKN 1 Kuwus: 9 murid
- SMPN 2 Kuwus: 31 murid
- SDI Golowelu 2: 20 murid, serta
- SDI Golo Bombong: 30 murid.
“Gejala mual, muntah, nyeri perut dan diare,” jelasnya.
Adapun Menu MBG murid konsumsi, yakni nasi putih, tempe krispi, telur kukus sambalado, sayur taoge, sayur labu, sayur sawi hijau, serta buah semangka. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di wilayah Kuwus Barat yang menyediakan menu tersebut.
Sementara itu, sebagian besar murid telah pulang setelah mendapatkan perawatan. Namun, dua murid lainnya masih menjalani perawatan lanjutan di Puskesmas Golowelu.

