Menkes Siapkan Psikolog di Puskesmas Usai Anak Meninggal di NTT
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Kam, 5 Feb 2026

menalar.id,. – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin merespons kasus meninggalnya seorang anak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menjadi sorotan publik. Menyikapi peristiwa tersebut, Kemenkes langsung menyiapkan penguatan layanan psikologi klinis bagi anak.
Budi menjelaskan pemerintah telah melakukan skrining kesehatan mental terhadap anak-anak dan menemukan jutaan anak berada dalam kelompok berisiko. Karena itu, Kemenkes berencana menempatkan psikolog klinis di setiap puskesmas agar penanganan masalah kesehatan mental tidak hanya terpusat di rumah sakit.
“Kesehatan mental anak memang kita sudah lakukan skrining, ada 10 juta anak yang berisiko (terkena penyakit mental). Nah, sekarang, saya mau menyiapkan ada psikologi klinis di masing-masing puskesmas, supaya penyakit-penyakit jiwa yang selama ini enggak tertangani di rumah sakit, bisa ditangani di puskesmas,” katanya, Rabu (4/2/2026).
Tak membantah, Budi mengakui isu kesehatan mental anak selama ini belum mendapatkan perhatian yang memadai. Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemerintah kini berupaya memasukkan pemeriksaan kesehatan mental anak secara sistematis, sekaligus memperluas layanan tersebut di tingkat puskesmas.
“Sebelumnya kan kita enggak tahu ada masalah kejiwaan pada anak, nah sekarang melalui skrining, kita sudah tahu ada 10 juta, itu harus ditangani dengan menaruh psikolog klinis di puskesmas yang bekerja sama dengan sekolah, supaya bisa diobati secara preventif dan promotif,” ujar dia.
Di sisi lain, Gubernur NTT Melki Laka Lena menilai peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan sistem di berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari provinsi hingga ke level paling bawah. Menurutnya, kondisi itu berkontribusi pada meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar di wilayah tersebut.
“Sebagai gubernur NTT tentunya saya berduka cita mendalam dengan kejadian di Jerebuu adik kita mesti meninggal karena kegagalan sistem yang ada di pemerintah provinsi, Kabupaten Ngada sampai ke tingkat bawah, tentu dengan perangkat sistem yang lain,” katanya di Kupang, Rabu (4/2/2026).
Melki menyebut pemerintah daerah gagal mendeteksi dan merespons kesulitan yang dialami anak tersebut sejak awal. Ia menilai kejadian ini menjadi peringatan keras bagi seluruh jajaran pemerintah di NTT.
“Apa pun kisahnya, ini merupakan tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan,” ujar dia.
Ia juga menegaskan bahwa berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan belum sepenuhnya berhasil melindungi kelompok paling rentan. Menurutnya, pemerintah masih memiliki pekerjaan besar agar tidak ada lagi nyawa yang hilang akibat persoalan sosial dan ekonomi.
“Ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” tambah dia.
Melki berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur dan menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperbaiki sistem perlindungan sosial ke depan.
Sebagai informasi, seorang anak kecil berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya karena orang tuanya tak mampu membeli buku dan pensil, (29/1/2026). Korban pun sempat meninggalkan sepucuk surat sebelum ditemukan meninggal dunia di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
