Menasehati Penguasa Zalim
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sab, 11 Apr 2026

Oleh: Saifudin
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Menalar.id – Beberapa pekan ini hujatan, hinaan, cacian dan makian masyarakat Indonesia di media sosial (medsos) kepada Presiden Prabowo Subianto bak jamur di musim hujan. Kalimat atau ujaran bernada negatif itu yang menggunakan frasa halus, kritis, sarkasme, kasar, bahkan sampai pada bentuk penghinaan secara fisik atau personal.
Selain dicap sebagai presiden bodoh, tolol, dan goblok, Prabowo juga dianalogikan dengan hewan ternak atau piaraan. Tak hanya itu, Prabowo juga sering jadi bahan olok-olokkan di medsos dalam bentuk karikatur, hashtag, threads (utasan konspirasi), deepfake (manipulasi atau suntingan video, stiker digital, lagu atau jingle satir dan lain-lain.
Dari beberapa umpatan dan cacian dan hinaan itu, ujaran dari mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto yang menyulut banyak reaksi dari masyarakat. Ia mengalogikan Presiden dengan hewan dan sejumlah ujaran lain yang kurang elok bagi orang beragama.
Karena itu pula, sebagian kasus tersebut dilaporkan ke pengah hukum. Namun, Presiden Probowo sendiri yang meminta agar kasus-kasus tersebut diselsaikan secara dialog.
“Nanti kita terima koreksi-koreksi itu. Kalau kita difitnah, kalau kita dihujat, anggaplah itu sebagai peringatan supaya kita waspada,” kata Presiden Prabowo dalam taklimatnya di hadapan anggota Kabinet Merah Putih, seperti lansir siaran Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (8/4/2026).
Secara filosofis, ujaran hujatan, hinaan, cacian, dan umpatan tersebut tentunya dimaksudkan sebagai nasehat kepada penguasa yang dinilai salah jalan. Ada pula yang menilainya sebagai penguasa yang zalim. Sebagaimana nasehat sejarawan Inggris Lord Acton, a power tends to corrupt.
Menurut Islam, Istilah zalim adalah antitesa atau antonim dari kata ‘adil. Perilaku zalim merupakan segala bentuk perkataan, perbuatan, dan sikap yang melampui batas-batas akidah, syariat dan akhlak Islam.
Lalu bagaimana metode Islam meng-counter penguasa yang salah jalan atau berbuat zalim? Kisah para penguasa zalim terjadi tidak di zaman sekarang saja. Di setiap masa tertentu selalu ada raja, khalifah, sultan, emir, dan presiden, serta kelompok oligarki, aristokrasi dan sebagainya yang zalim. Di masa kenabian Ibrahim AS ada Raja Namrud. Di era Nabi Musa AS ada Fir’aun, dan di masa Nabi Muhammad SAW terdapat para oligarki zalim seperti Abu Lahab, Abu Jahal, Walid bin al-Mughirah dan lain-lain.
Lalu bagaimana para nabi dan rasul Allah tersebut menghadapi beragam kezaliman penguasa? Dalam menghadapi kezaliman Namrud dan para pengikutnya, Nabi Ibrahim AS mengajak atau mendakwahi mereka dengan dialog public tanpa harus menghina pribadi dan pengikut Namrud (Q.S. al-Anbiya: 51-67).
Nabi Muhammad SAW AS meng-counter berbagai macam kezaliman kaum kafir Quraisy, beliau mendakwahi mereka dengan beragam metode secara adil. Bahkan, Nabi SAW senantiasa berdo’a kebaikan kepada orang-orang yang menzalimi dirinya.
“Ya Allah kuatkan dan tolonglah Islam dengan dua orang lak-laki yang lebih mencintai Engkau, yaitu Abu Jahal atau ‘Umar ibn al-Khaththab,” tutur Rasulullah SAW. (H. R. al-Tirmidzi:3681 dan Ahmad:5696). Inilah doa dan munajat Nabi SAW ketika beliau menghadapi kezaliman, kekejaman, dan aroganssi para pembesar Quiraisy.
Al-Baihaqî dalam Sya’b al-Îmân meriwayatkan, bahwa Nabi SAW ketika menuju kabilah Thaif berharap agar mereka memeluk Islam. Alih-alih disambut dengan baik. Justru beliau disambit (dilukai) dengan lemparan bebantuan, sehingga wajah dan tubuh beliau berdarah. Malaikat Jibril AS pun datang memberi tawaran jasa untuk mengacurkan kaum Thaif dengan gunung. Namun, Nabi SAW justru berkata kepada Jibril,” Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk menjadi perusak dan pelaknat. Tetapi, Dia mengutusku untuk menjadi penyeru kebaikan dan Rahmat. Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhynya mereka adalah orang-orang yang tidak berilmu. (H.R. al-Baihaqî: 1375).
Hal serupa dilakukan Nabi Musa AS bersama Nabi Harun AS ketika menasehatiFir’aun. Tidak ada raja yang lebih zalim dari Fir’aun. Sebelum menemui Fir’aun, Allah SWT menyampaikan pesan kepada Nabi Musa AS dan dan Harun AS agar dalam menasehati Fi’aun dengan untaian-untaian tutur kata yang lembut (qaulan layyinan), sehingga nasehat tersebut mudah diterima hati Fir’aun dan ia tidak melampui batas atas dakwah keduanya (Q.S. Thaha:42-44).
Bila seseorang menghadapi kezaliman penguasa dengan fead back dan cara sertametode yang zalim pula, maka hal tersebut akan menambah lahirnya kezaliman yang lebih besar dan meluas. Hal inilah yang dilarang dan dicegah sejak awal oleh dakwah para nabi dan rasul.
Mengapa dalam menasehati atau berdakwah seseorang dilarang dengan cara, metode dan narasi yang merendahkan, menghina, dan mencaci manusia lain? Alasannyaadalah pertama, bahwa secara ontologis manusia itu hakekatnta mulia dan derjatnya tinggi, serta tidak boleh dihinakan martabatnya; kedua, tidak ada makhluk apapun yang dapat menundukkan hati manusia, kecuali Allah SWT Sang pemilik hati hamba-Nya; dan ketiga, manusia atau siapapun tidak punya hak untuk menyiksa dan membinasakan ciptaan-Nya yang zalim, kecuali atas izin dan ketentuan Allah SWT Sang al-Khaliq.
Dalam memberikan nasehat, kritik, dan teguran kepada penguasa zalim, Islam mengajarkan tujuh metode atau cara, yaitu dengan qaulan sadidan (tutur kata yang benar, Q.S. al-Ahzab:70), qaulan balighan (argumen tepat, Q.S.al-Nisa:63), qaulan kariman (perkataan yang mulia, Q.S. al-Isra:23) dan qaulan maysuran (perkataan yang mudah, Q.S. al-Isra:28), serta qaulan ma’rufan (perkataan yang arif/baik, Q.S. al-Baqarah:235), qaulan layyinan (tutur kata yang lembut, Q.S. Thaha:44),dan qaulan tsaqilan (narasi yang berat, Q.S. al-Muzammil:5).
Adalah sunnatuLlah, bahwa orang-orang zalim ada selalu hadir di tengah-tengah orang-orang adil. Hal demikian didesain Allah SWT agar manusia mengetahui subtansi dan esensi masing-masing dua hal tersebut dengan nalar akal dan kontemplasi hatinya.
- Penulis: Redaksi
