Breaking News

Pendidikan Kita: Dari Scholarisme ke Sekolahisme

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 2 Mei 2026

Menalar.id – Tak perlu diragukan lagi, bahwa pendidikan merupakan dasar utama kemajuansebuah bangsa. Tanpa pendidikan, maka tidak akan lahir ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan peradaban pada bangsa tersebut. Dan, peradaban adalah subtansi dari sebuahbangsa atau negara. Semakin tinggi peradaban sebuah bangsa, semakin tinggieksistensi bangsa tersebut. Jadi pendidikan merupakan back bone sekaligus face of nation eksistensi dari suatu bangsa.

Warga negara yang tingkat pendidikannya maju, maka bangsa atau  negaranyapasti maju. Sebaliknya warga negara yang tingkat pendidikannya rendah, negaranyapun rendah. Maju atau mundurnya pendidikan suatu bangsa merupakan indikatorunggul dan lemahnya sebuah negara.

Negara yang unggul ditandai oleh daya saing sumber daya manusia, adaptifterhadap perkembangan ilmu dan teknologi, mendiri dalam ekonomi dan politik, ketangguhan dalam perubahan global, good and clean governance, dan keadilan sosial(Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045).

Indikator-indikator  negara unggul tersebut hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan. Sejak merdeka hingga sekarang, pendidikan bangsa Indonesia mengalamipasang-surut. Namun, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, maka tingkatpendidikan tergolong rendah.

Menurut  laporan UN’s Education at a Glance Report (https://worldtop20.org/worldbesteducationsystem/), posisi Pendidikan Indonesia berada pada urutan angka 67.  Posisi tersebut berada di antara Albania (66) dan Serbia (68). Penilaian ini mencakup tingkat partisipasi sekolah usia dini, kelulusan sekolah, hingga tingkat kelulusan perguruan tinggi.

Secara spesifik dalam bidang matematika, pendidikan Indonesia juga belummemuaskan. Laporan  Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan, bahwa tingkat pendidikan masih tergolong rendah.

Hasil pemeringaktan PISA 2022 menunjukkan bahwa skor rerata matematikapelajar Indonesia turun pada angka 366 poin, lebih rendah dari skor pada 2018 sebesar 379 poin. Dari sisi peringkat global, posisi Indonesia berada di urutan sekitarke-70 dari 81 negara peserta pada domain matematika, menunjukkan tantangan besardalam penguasaan keterampilan numerik siswa.

PISA juga mengukur kemampuan membaca dan sains untuk siswa usia 15 tahun. Hasilnya, skor membaca Indonesia berada di angka 359 poin, sementara skorsains mencapai 383 poin pada survei ini. Jika dibandingkan dengan rata-rata OECD yang jauh lebih tinggi, capaian ini mencerminkan kebutuhan serius akan perbaikansistem pembelajaran secara nasional.

Karena pada level menengah pendidikan Indonesia rendah, maka secaraotomatis pada pendidikan tingginya pun rendah alias lemah. Laporan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) Education at a Glance (2025),Indonesia berada di peringkat 44 dari 45 negara, hanya sedikit lebih tinggi dari Afrika Selatan. Laporan OECD ini merangkum tingkat pendidikan penduduk berusia 25 – 64 tahun di berbagai negara, berdasarkan jenjang pendidikan tertinggi yang diselesaikan.
Di bidang literasi keislaman, umat Islam Indonesia, -, khususnya kemampunmembaca Al-Qur’an,- juga termasuk rendah. Menurut laporan Kementerian Agamapada 2023, hanya sebanyak 44,57% umat Islam yang lancer membaca Al-Qur’an dengan lancar sesuai tajwid (https://kemenag.go.id/nasional/survei-kemenag-indeks-literasi-al-qur-an-kategori-tinggi-w0A7W).

Penelitian tersebut selaras dengan rilis Harian Republika (2021) yang menyebutkan bahwa sekira 65 persen masyarakat Indonesia tidak mampu membacaAl-Qur’an dengan baik dan benar(https://khazanah.republika.co.id/berita/qrg3fn366/65-persen-muslim-indonesia-tidak-bisa-baca-alquran). Ini artinya selama dua hingga tahun tidak ada peningkatanliterasi Al-Quran dan keislaman. Inilah fakta pendidikan kita hari ini.

Pertanyaan, mengapa pendidikan kita pada beberapa dekade ini mengalamiturbulensi yang mengkhawatirkan? Bukankah Indonesia dulu mempunyai banyakilmuan, ulama, tokoh, dan cendikiawan kelas dunia (wordl  class scholars). BukankahSoekarno, Hatta, Agus Salim, Mohmmad Natsir, dan Buya Hamka,-untuk menyebutbeberap nama saja,- mereka adalah para sarjana top kelas dunia? Buktinya adalahpemikiran dan pengaruh mereka diakui dunia internasional. Demikian pula SyaikhAhmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Nawawi al-Bantani, dan lain-lainya. Merekasemua dikenal sebagai kaum scholarisme, yaitu individu atau masyarakat yang  hidupdengan budaya dan cinta ilmu pengetahuan.

Menurut Wan Daud (2019) dan Franz Rosenthal (1970), individu dan masyarakat yang berbudaya ilmu adalah: pertama, masyarakat yang belajar tanpahenti, belajar sepanjang hayat (lifelong learning); Mereka bejalar tidak mengejar gelarformil akademis; kedua, mereka menghargai kebenaran. Mereka terbuka terhadappelbagai pemikiran lintas madzhab, sekte, dan agama.

Selain itu mereka juga jujur secara intelektual, dan menghormati para ilmuwanatau sumber pengetahuan yang valid; ketiga, mereka berpikir kritis dan rasional; keempat, mereka mengamalkan ilmu dengan tulus, tanpa pamrih materi. Pencapaianilmu pngetahuan tidak serta merta harus diukur dengan banyaknya harta, jabatan dan status sosial lainnya; dan kelima,  mereka mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk membangun diri, masyarakat, dan kemajuan peradaban bangsa.

Dari fakta tersebut dapat disimpukan, bahwa pendidikan di Indonesia sekarangini telah terjadi pergeseran paradigma dari schalarisme menuju ke sokolahsime. Istilah ini dapat diartikan suatu residu atau penyakit pemikiran yang menyamakan seluruhesensi pendidikan semata-mana hanya dengan persekolahan formal. Di Indonesia term sekolahisme dipopulerkan intelektual sekaligus cendikiawan Muslim Adian Husaini (2020).

Menurutnya, ciri-ciri pendidikan madzhab sekolahisme adalah ijazah sentris(Credentialism). Kualitas, kecerdasan, dan kehormatan seseorang semata diukurberdasarkan selembar ijazah atau gelar akademik. Akibatnya, aspek-aspek moral, etika, dan agama dianggap kurang penting.

Akibatnya, makna belajar pun berubah. Belajar hanya terjadi jika ada ruangkelas, seragam, guru formal, dan papan tulis, serta berhenti belajar pasca lulus. Ekosistem pendidikan yang demikian secara langsung telah mendorong pendidikanjadi lahan komersialisasi dan ladang transaksional, sehingga biaya pendidikan yang semestinya menjadi kewajiban negara akhirnya jadi high cost bagi masyarakat.

Pada sisi lain, sekolahisme juga menganggap lembaga pendidikan non-formal dianggap sebelah mata, tidak penting, merendahkan jalur-jalur pendidikan di luarsekolah resmi.

Kritik atas sekolahisme pernah disampaikan Ivan Illich (1971) melaluipemikirannya tentang Deschooling Society” (Masyarakat Tanpa Sekolah). Menurutnya, menjadikan sekolah sebagai satu-satu jalur belajar atau mendapatkanPendidikan adalah kesalahan besar. Alasannya, kapasitas manusia untuk belajar jauhlebih luas dari pada belajar di sebuah institusi sekolah.

Di Hari Pendidikan Nasional, kita harus segera intropeksi dan mengevaluasipendidikan kita. Bila kondisi tersebut dibiarkan, maka peringatan Hari Pendidikan Nasional hanya jadi monument seremonial yang tidak monumental. Padahal, pendidikan adalah pilar monumental terdepan untuk mengubah wajah masa depanperadaban.

  • Penulis adalah Saifudin Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.
  • Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.
  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lemparan Botol hingga Petasan Warnai Aksi Mahasiswa di DPR/MPR

    Lemparan Botol hingga Petasan Warnai Aksi Mahasiswa di DPR/MPR

    • calendar_month Kam, 28 Agu 2025
    • account_circle Nisrina
    • 0Komentar

    menalar.id – Demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Kamis (28/8/2025), berujung ricuh. Massa aksi yang didominasi mahasiswa dari berbagai kampus mulai melempar botol ke arah kompleks parlemen sekitar pukul 14.00 WIB. Pantauan di lokasi, bukan hanya botol yang dilempar. Ada juga petasan, bambu, hingga teriakan bernada makian. Suasana makin panas ketika sejumlah massa membakar ban […]

  • Polisi Tutup Akses Konvoi Takbiran, 2.500 Personel Dikerahkan

    Polisi Tutup Akses Konvoi Takbiran, 2.500 Personel Dikerahkan

    • calendar_month Ming, 30 Mar 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Polda Metro Jaya memberlakukan penyekatan di perbatasan Jakarta untuk mengantisipasi konvoi malam takbiran. Kepolisian menegaskan larangan konvoi karena berpotensi mengganggu ketertiban umum dan keselamatan warga. 2.500 Personel Dikerahkan untuk Pengamanan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Latif Usman, menegaskan jika pawai membahayakan akan lakukan tindakan. “Kami melarang konvoi. Aktivitas rutin tidak masalah, tetapi jika berupa […]

  • India-Pakistan Resmi Gencatan Senjata! Tapi...

    India-Pakistan Resmi Gencatan Senjata! Tetapi…

    • calendar_month Sen, 12 Mei 2025
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 0Komentar

    menalar.id – Secara resmi India dan Pakistan melakukan gencatan senjata terkait konflik wilayah Kashmir, pada Sabtu (10/5/2025). Setelah melewati serangan-serangan mematikan selama empat hari, Donald Trump turut ikut mendorong kedua negara untuk gencatan senjata. Usulan tersebut terwujud setelah melalui serangkaian pertemuan intensif. “Kami telah bertindak sebagai negara yang bertanggung jawab, demi perdamaian dan stabilitas dunia […]

  • Best Free LMS for WordPress: 5 Options Compared for 2026

    Best Free LMS for WordPress: 5 Options Compared for 2026

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    The best free learning management system (LMS) for WordPress is Masteriyo. With that said, there are other free LMS options that have particular strengths and lend themselves well to specific use cases. In the remainder of this post, I’m going to break down five of the best free choices available right now, so you can […]

  • Jakarta Darurat Premanisme Ormas: 9 Tersangka Tertangkap

    Jakarta Darurat Premanisme Ormas, 9 Anggota GRIB Jaya Tertangkap

    • calendar_month Sel, 13 Mei 2025
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 0Komentar

    menalar.id – Gubernur Bali, Wayan Koster dengan tegas menolak segala bentuk premanisme yang berlindung dibalik nama Ormas (Organisasi Kemasyarakatan). Ia sampaikan saat peresmian Bale Paruman Adhayaksa dan Bale Restorative Justice di Bandung, Kamis (8/5/2025). Koster menyoroti kasus dugaan premanisme oleh anggota Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya di Bali. Ia mengecam keras tindakan tersebut. “Bentuknya […]

  • Habiburokhman: Revisi KUHAP Bisa Saja Batal

    Habiburokhman: Revisi KUHAP Bisa Saja Batal

    • calendar_month Rab, 16 Jul 2025
    • account_circle Nisrina
    • 0Komentar

    menalar.id- Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman, menyebut revisi Undang-Undang Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) bisa saja batal disahkan. Menurutnya, proses revisi ini bergantung pada seberapa kuat aspirasi publik yang menolak. “Bisa saja RUU KUHAP tidak jadi disahkan. Hal tersebut bisa terjadi (jika) para penolak KUHAP berhasil meyakinkan para pimpinan partai untuk membatalkan pengesahan KUHAP,” […]

expand_less