Aceh Tamiang Perpanjang Tanggap Darurat hingga Februari 2026
- account_circle Nazula Destiyana
- calendar_month Sel, 20 Jan 2026

Kondisi Aceh Tamiang pascabanjir bandang Sejumlah bangunan rusak pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025). Berdasarkan data Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh pada Selasa (2/12) sebanyak 1.452.185 jiwa terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda 3.310 desa di 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.
menalar.id,. – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh memutuskan memperpanjang masa tanggap darurat bencana banjir hingga (3/2/2026). Sebelumnya, status tanggap darurat berakhir pada dari (20/1/2026).
Hal ini merupakan upaya untuk memastikan pembersihan lumpur di permukiman warga berjalan maksimal serta memperkuat penanganan darurat bagi para korban banjir. Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi menyebut kondisi permukiman warga masih dipenuhi lumpur dan belum tertangani secara optimal.
Ia menegaskan pemerintah daerah ingin memaksimalkan upaya pembersihan pascabencana.
“Kita ingin memaksimalkan penananganan darurat untuk pembersihan lumpur di seluruh kawasan pemukiman. Target kita, sebelum Ramadhan Februari mendatang, pemukiman sudah bersih dari lumpur,” tutur Armia dalam rapat evaluasi penanganan banjir di Aceh Tamiang, Selasa (20/1/2026).
Armia meminta seluruh tim yang terlibat bekerja secara maksimal agar persoalan pascabencana dapat segera selesai. Ia menekankan bahwa pembersihan lumpur menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Pemukiman sudah bisa ditempati, lumpur di pemukiman menjadi fokus utama agar bisa segera ditempati sebelum Ramadhan,” ungkap dia.
Warga Minta Libatkan Masyarakat
Sementara itu, warga Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang Andi Bahri meminta pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses pembersihan lumpur dengan menerapkan pola padat karya. Melalui skema ini, warga dapat membersihkan lumpur di rumah masing-masing dan memperoleh upah dari pemerintah.
“Selama ini kami tidak kerja. Tidak ada juga pekerjaan yang bisa kita lakukan, jadi berharap dari bantuan pemerintah dan bahan pangan relawan,” tutur dia.
Andi berharap keterlibatan warga tidak hanya mempercepat pemulihan pascabencana, tetapi juga membantu masyarakat memperoleh penghasilan untuk kembali menata kehidupan mereka.
“Semoga bisa didengar pemerintah, agar libatkan masyarakat dan memberi upah pada masyarakat,” pungkasnya.
Kayu-Kayu Telah Dibersihkan
Sementara itu, Koordinator Penanggulangan Bencana di Aceh Tamiang, Brigjen TNI Mochammad Arif Hidayat mengaku sejumlah jalan telah bersih dari lumpur. Bahkan tumpukan kayu yang berada di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Aceh Tamiang yang sempat viral telah berisih 100%.
Selain itu, pembersihan kayu lainnya pada kawasan Kota Lintang Bawah telah rapi. Nantinya, kayu-kayu tersebut akan pemda manfaatkan untuk kebutuhan.
“Proses pembersihan di Desa Suka Jadi dan Karang Baru juga sudah mulai dilakukan dan menunjukkan perkembangan yang baik,” kata Arif, Sabtu (17/1/2026) melansir Kompascom.
Pembangunan Hunian Sementara
Arif juga mengatakan, pembangunan hunian sementara (huntara) tahap dua telah terlaksana di dua lokasi di Kecamatan Banda Pusaka, yaitu Desa Babo dan Desa Alur Jambu. Nantinya, huntara akan berlanjut ke sejumlah lokasi.
Arif mengatakan jika penempatan pengungsian merupakan tugas pemda. Sedangkan Badan Naional Penanggulangan Bencana (BNPB) hanya mendukung dengan menyediaan fasilitas bagi warga terdampak.
Penulis Nazula Destiyana
Sejak kecil tumbuh di antara koran dan buku, kini berkembang menjadi penulis yang mengeksplorasi jurnalistik, penelitian, dan media digital. Aktif dalam kompetisi menulis dan UI/UX, serta selalu penasaran dengan dunia politik dan sains teknologi.
