Breaking News

Mitoisasi Sri Mulyani

  • account_circle Sayida
  • calendar_month 0 menit yang lalu

menalar.idMeskipun zaman sudah serba modern dan canggih, manusia Indonesia modern ternyata tidak bisa lepas dari mitos dan mitologi. Pun, kendati banyak orang Indonesia yang sekolah atau belajar di kampus-kampus luar negeri, terutama di Amerika, Eropa, dan Australia yang konon dianggap tempat mengajarkan rasionalitas dalam segala hal, toch ternyata tidak sedikit dari mereka yang senang dengan mitos. Mitos dalam hal apa? Mitos dalam masalah ekonomi, politik, agama, dan sebagainya.

Mitos adalah pengetahuan atau narasi yang didasarkan pada asumsi untuk menjelaskan (asal-usul) suatu kepercayaan, fenomena alam, adat istiadat, dan tardisi suatu masyarakat yang sering kali melibatkan hal-hal supranatural (Segal, R. A. (2015). Mitos juga dapat diartikan sebagai anggapan yang salah atau keyakinan populer yang tidak terbukti secara ilmiah.

Mitos yang hingga kini masih terngiang dalam memori bangsa Indonesia adalah tentang Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan (Menkeu) tiga rezim: dari Presiden SBY, Joko Widodo, hingga Presiden Prabowo Subianto. Mengapa menkeu yang dikenal sebagai penganut ekonomi neoliberal (neolib) ini bisa “bertahan” selama hampir dua dasawarsa? Adakah kelebihan pada dirinya? Apakah karena ia pernah dinobatkan sebagai menkeu terbaik oleh Wordl Bank? Atau karena ia perempuan? Atau tidak ada ekonom hebat yang lebih dari dia?

Konon Sri Mulyani didapuk dan tetap dipertahankan oleh para rezim sebagai menkeu adalah karena ia dianggap cakap menjaga stabilitas fiskal, ekonomi makro, menjanjikan pertumbuhan ekonomi, dan ia dinilai prudent dalam pengelolaan keuangan negara.

Ada pula anggapan yang menyebutkan, bila bendahara negara itu tidak dikendalikan oleh Sri Mulyani, tingkat kepercayaan para investor turun, sehinga kemungkinan besar mereka akan kabur dan mengalihkan sahamnya ke luar negeri. dan masih terdapat seribu satu alasan lainnya demi Sri Mulyani.

Sebagian bangsa Indonesia juga terpukau dengan gelar Sri Mulyani sebagai menkeu terbaik di dunia, sehingga seolah bila bukan Sri Mulyani yang jadi menteri keuangan, maka ekonomi negara dan investor jadi kabur tunggang langgang. Lagi-lagi ini juga mitos belaka. Seolah mati-hidupnya ekonomi sebuah bangsa dikendalikan oleh mereka.

Hipotesa atau antitesa sebaliknya adalah apakah anggapan atau klaim tersebut benar? Jangan-kangan itu hanya mitos atau ilusi belaka. Sebagaimana kita saksikan bersama bahwa ekonomi Indonesia di bawah kendali Sri Mulyani menunjukkan fakta dan kondisi yang sebaliknya. Indikator mikro dan makro ekonomi dapat dijadikan tolok ukur.

Selama periode Sri Mulyani menjadi menkeu, hutang luar dan dalam negeri Indonesia terus meroket. Distribusi kekayaan negara pun mengalami disparitas yang tinggi antarkelompok sosial-ekonomi masyarakat. Padahal menurut Undang-undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 33, kekayaan negara semestinya untuk kemakmuran dan kesejahteraan semua masyarakat Indonesia. Namun yang terjadi adalah seperti lirik lagu Rhoma Irama, “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Partisipasi ekonomi rakyat kecil dalam banyak hal pun kian berat. Mereka tidak punya akses untuk mendapatkan kesetaraan akses ekonomi, keuangan dan perbankan seperti halnya para konglomerat atau pengusaha kelas atas.

Sebagai bendahara negara, mestinya ia dapat menekan pertumbuhan dan pertambahan (calon) orang miskin. Tetapi faktanya, jumlah orang miskin dan pengangguran baru tiap tahun pun bertambah. Bukti riilmya hampir semua usaha-usaha kecil di pasar tradisonal, bahkan di swalayan dan mall, gulung tikar.

Demikian pula kebocoran di banyak kementerian dan lembaga tidak ada penegakan hukum. Bahkan, mafia dan praktik-praktik kotor di Dirjen Bea Cukai Kemenkeu dibiarkan. Atau dilindungi (?).

Sri Mulyani juga cenderung diam atas pelbagai proyek pembangunan infrastruktur yang nenelan triliunan rupiah dari hutang oleh Jokowi. Padahal sebagain besar proyek tersebut bukan menjadi kebutuhan riil masyarakat kebanyakan. Contoh pembangunan Bandara Kertajakti yang operasionalnya hingga sekarang harus tekor sekira 100 miliar tiap tahun. Proyek Kereta Api Indonesia China Whossh juga mengalami hal serupa. Dan masih banyak lagi. Proyek-proyek tersebut tidak hanya stuck tanpa kebermanfaatan untuk semua masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, tetapi juga mengganggu APBD dan APBN.

Kondisi riil ekonomi Indonesia itu ibarat rumah tangga yang income atau pengasilannya pas-pasan, namun nafsu konsumtifnya melebihi batas penghasilan. Pembangunan direncanakan berbasis keinginan politik pribadi, bukan hajat masyarakat. Bermacam proyek dibangun dengan maksud agar di kelak hari orang mengenangnya sebagai bapak pembangunan, bapak infrastruktur dan beragam gelar lainnya. Padahal endingnya nestapa panjang yang harus ditanggung oleh setiap bayi lahir di kemudian hari.

Ini semua terjadi karena rezim, elit politik, konglomerat dan sebagian besar kita teralu mengkultuskan dan memitoskan Sri Mulyani sebagai begawati ekonomi yang paling mumpuni. Padahal, ekonom senior almarhum Faisal Basri berkali-kali mewanti-wanti atas kebijakan dan tindakan Sri Mulyani yang mendukung kebijakan ekonomi liberal alias kepentingan konglomerat hitam.

Secara demografis, masyarakat Indonesia memang sudah banyak yang sekolah tinggi-tinggi. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang mendalami ilmu ekonomi moneter, fiskal dan sebagainya di kampus-kampus top luar negeri. Namun, kultur dan praktik mitoisasi belum lekang dari mindset masyarakat Indonesia.

Indonesia secara sosiokultural memang sulit lepas dari dunia mitologi. Sebab, bangsa ini tumbuh dan berkembang dari keyakinan agama-agama pagan. Agama-agama secara teologis doktrinal dekat dan lekat dengan mitologi.

Dalam hal politik, masyarakat Indonesia juga gemar dengan tokoh-tokoh mitos. Misalnya tentang Ratu Adil dan Satrio Piningit. Dalam budaya Jawa, kepercayaan tersebut adalah kepercayaan mesianistik atas hadirnya figur atau seorang pemimpin visioner, adil, dan bijaksana yang akan menyelamatkan rakyat dari penderitaan, ketidakadilan, dan kemakmuran universal.

Inilah mengapa di saat terdapat kondisi sosial, ekonomi dan politik yang carut-marut, kemudian terdapat figur yang menjadi antitesa atas penguasa pada masa tersebut, maka tokoh tersebut akan dipuji, dipuja, dan didramalogi, seolah dialah juru selamatnya. Ihwal inilah yang terjadi pada Sri Mulyani. Ia dianggap lebih hebat dari pada Jusuf Anwar, sebelum Sri Mulyani. Figur lain yang mirip adalah Jokowi. Tokoh yang dinobatkan sebagai King of lip servive oleh BEM UIN ini, dianggap antitesa SBY. Sebelum jadi presiden, Jokowi dianggap pemimpin yang sederhana, merakyat dan jujur. Faktanya justru sebaliknya.

Di era neokapitalisme, antara mitos dan politik memang sulit dipisahkan. Bagi para politisi dan konglomerat hitam, mitos merupakan senjata ampuh untuk mengelabui dan menipu masyarakat awam yang mudah dijanjikan dengan pelbagai romantisme kesejahteraan materi dan kepalsuan kebijakan.

  • Penulis adalah Saifudin Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.
  • Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Penulis

Memimpin tim redaksi dengan fokus pada pemberitaan akurat, mendalam, dan memancing nalar pembaca. Fokus di rubrik nasional, ekonomi, dan hukum

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dibayar Rp150 Ribu: Nasib Warga Sipil dalam Operasi Pemusnahan Amunisi TNI

    Dibayar Rp150 Ribu: Nasib Warga Sipil dalam Operasi Pemusnahan Amunisi TNI

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap praktik berbahaya dalam proses pemusnahan amunisi TNI di Garut, Jawa Barat, yang melibatkan 21 warga sipil dengan upah harian Rp150.000. Anggota Komnas HAM Uli Parulian Sihombing menjelaskan bahwa para pekerja ini tidak memiliki sertifikasi resmi maupun alat pelindung diri yang memadai saat menangani bahan peledak. […]

  • pt gag

    Menteri LHK: PT Gag Wajib Bangun Kolam Pengendapan di Raja Ampat

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 0Komentar

    menalar.id – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan (LHK) Hanif Faisol Nurofiq, menetapkan sejumlah syarat ketat bagi PT Gag Nikel yang kembali beroperasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah pencemaran lingkungan pada kawasan yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia. “Hal terpenting, tidak boleh ada limpasan permukaan (surface runoff) yang langsung […]

  • Maka, peran Jubir sangat krusial. Apabila presiden terus menerus menyampaikan pernyataan yang memicu kontroversi, kontradiktif, atau bernada emosional, dampaknya bukan hanya sekadar polemik sesaat di media sosial. Dalam jangka panjang, hal itu dapat menciptakan jarak psikologis antara pemimpin dan rakyatnya sendiri. Publik menjadi kesulitan membedakan mana pernyataan yang benar-benar merepresentasikan kebijakan negara dan mana yang sekadar respons spontan personal seorang presiden. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori *agenda setting* dari Maxwell McCombs dan Donald Shaw yang menjelaskan bahwa media memiliki kekuatan membentuk fokus perhatian publik terhadap suatu isu. Ketika pernyataan kontroversial presiden lebih dominan diberitakan dibanding substansi kebijakan, maka citra pemerintah di mata masyarakat perlahan akan dibangun dari kontroversi tersebut. Akibatnya, komunikasi politik negara berubah menjadi siklus klarifikasi tanpa akhir. Selain itu, pakar komunikasi politik Murray Edelman dalam *Constructing the Political Spectacle* juga menjelaskan bahwa bahasa politik bukan sekadar alat penyampaian informasi, melainkan pembentuk persepsi publik terhadap kekuasaan. Cara seorang pemimpin berbicara dapat menentukan apakah ia dipandang sebagai figur yang menenangkan atau justru memperuncing ketegangan sosial. Dalam konteks ini, diksi informal, nada defensif, hingga pernyataan yang saling bertentangan berpotensi membangun kesan bahwa pemerintah lebih reaktif terhadap kritik ketimbang terbuka terhadap evaluasi. Di sinilah Jubir seharusnya mengambil peran sentral. Jubir bukan sekadar “tameng” pemerintah, melainkan penyaring komunikasi politik agar pesan negara tetap konsisten, terukur, dan tidak menimbulkan multitafsir. Presiden tentu tetap memiliki hak berbicara langsung kepada publik, namun komunikasi kenegaraan yang terlalu spontan justru rentan menjadi bumerang politik. Apalagi di era digital, satu potongan pidato dapat tersebar dalam hitungan detik dan membentuk opini publik secara masif. Sekali kepercayaan publik menurun, pemerintah akan lebih sulit membangun legitimasi terhadap kebijakan-kebijakan berikutnya. Karena itu, memperkuat fungsi Jubir bukan hanya soal menjaga citra presiden, tetapi juga menjaga kualitas komunikasi demokrasi antara negara dan rakyatnya.

    Prabowo, Percayalah Pada Juru Bicara!

    • calendar_month Sen, 11 Mei 2026
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 1Komentar

    menalar.id,. – Satu bulan yang lalu, Presiden RI Prabowo Subianto berpidato di depan pejabat kabinet merah-putih, Rabu (8/4/2026). Dalam pidatonya, Prabowo menanggapi kritikan terkait ia yang acap acap menyambangi banyak negara. “Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri, senang jalan-jalan ke luar negeri. Ya, saudara-saudara untuk amankan minyak, gue harus ke mana-mana,” tegas Prabowo. Berdasarkan laporan […]

  • Isu Munaslub Golkar Kembali Mencuat, Pengamat Angkat Bicara

    Isu Munaslub Golkar Kembali Mencuat, Pengamat Angkat Bicara

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Nisrina
    • 0Komentar

    menalar.id – Isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar makin ramai dibicarakan. Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga, selama Bahlil Lahadalia masih menjabat sebagai ketua umum, kabar soal Munaslub akan terus bermunculan. “Sejak awal Bahlil bukanlah caketum yang dikehendaki kader Golkar. Karena itu, riak-riak isu Munaslub kemungkinan akan kembali mengemuka […]

  • mbg

    Heboh Isu 5.000 Dapur MBG Fiktif, BGN: Dana Nggak Cair Sembarangan

    • calendar_month Sab, 20 Sep 2025
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 0Komentar

    menalar.id – Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya angkat bicara mengenai isu keberadaan dapur fiktif dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya, menegaskan adanya dugaan dapur MBG fiktif muncul dari usulan titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memang sudah terdaftar dalam portal mitra. Tetapi belum ditindaklanjuti ke tahap pembangunan. “Semua SPPG […]

  • Aturan ODOL 2026: Perlindungan untuk Siapa?

    Aturan ODOL 2026: Perlindungan untuk Siapa?

    • calendar_month Sab, 21 Jun 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Djoko Setijowarno, pakar transportasi, menganalisis penyebab ribuan sopir truk dari berbagai daerah berunjuk rasa pada Kamis (19/6/2025). Massa menuntut pencabutan aturan Over Dimension Over Loading (ODOL) dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Djoko mengakui pentingnya regulasi batas ukuran dan muatan angkutan barang. Namun, ia memperingatkan bahwa […]

expand_less