Breaking News

Ramadlan, Jalan Spiritual Manusia

  • account_circle Sayida
  • calendar_month Jum, 20 Feb 2026

menalar.id,. – Sebagian orang berpendapat bahwa manusia tercipta dari dua dimensi dasar, yaitu ruhaniyah (spiritual) dan jasadiyah (material). Dimensi ruhaniyah terbentuk dari aspek ruhani atau ruh (rũh) dan dimensi jasadiyah terbentuk dari aspek biologis tanah. Secara kosmologis, ruh tercipta lebih dulu dari pada jasad. Selain itu, secara ontologis ruh merupakan sesuatu yang suci sedangkan jasad bersifat profan atau ada kecenderungan kepada sesuatu yang buruk, kotor, dan menyimpang.

Meski demikian, secara onto-anatomis manusia sebenarnya tercipta atau terbentuk oleh lima unsur yang berbeda-beda, yakni ruh, jasad, hati (qalb/heart), jiwa (soul), dan akal (logic). Eksistensi hati, jiwa dan akal berada pada diri manusia setelah penyatuan ruh dalam jasad.

Kelima unsur tersebut saling terkait. Hubungan kelimanya adalah interdepensi. Hilang atau rusak salah satu di antaranya, manusia akan mengalami gangguan dan ancaman sistemik dalam hidupnya. Manusia yang kehilangan ruhnya, berarti ia mati. Bila hati dan jiwa rusak, maka ia menjadi makhluk yang tidak beradab kepada Allah, Tuhan penciptanya dan kepada sesama manusia. Pun bila akalnya rusak, ia akan jadi orang gila. Jika jasad sakit dan terluka, maka manusia akan terganggu aktivitas hidupnya.

Dari lima unsur tersebut, ruh merupakan unsur yang tidak terpengaruh oleh unsur-unsur lainnya, karena ia menjadi sumber mati dan hidupnya unsur-unsur yang lain. Tanpa ruh, semuanya menjadi benda mati.

Kendati demikian, hati merupakan panglima (qâid), pengendali, dan driver bagi manusia. Baik dan buruknya manusia ditentukan oleh status, kualitas dan derajat hatinya. Sebagaimana disebutkan Nabi Muhammad Saw, “Ingatlah sesungguhnya dalam diri manusia terdapat sebongkah daging. Bila ia baik maka semua anggota tubuhnya akan baik. Namun, jika ia rusak (fasadat), maka seluruh anggota tubuhnya pun akan rusak alias sia-sia (Muttafaq ‘alaih).

Menurut Aristoteles, jasad manusia merupakan indikator dan simbol baik buruknya jiwa, hati dan akal seseorang. Inilah mengapa orang-orang Yunani Kuno dan bangsa Barat hari ini sangat membanggakan keindahan tubuh manusia dari pada keindahan jiwa atau hati. Misalnya, kontes Miss Universe dan ajang-ajang kontes lainnya yang serupa.

Sementara menurut al-Ghazali dan para filsuf Muslim, keindahan dan kemuliaan seseorang bukan ditakar dengan atau dilihat dari tampilan fisiknya, tetapi oleh perilaku sosialnya. Perilaku sosial adalah ekpresi batin yang terdalam dari jiwa dan hati. Dalam jiwa manusia terdapat hati. Oleh karena itu, hati yang baik (qalb sâlim) akan membentuk jiwa yang baik pula, dan secara otomatis akan melahirkan perbuatan baik. Hati yang kotor akan membentuk jiwa dan tabiat kotor.

Menurut teologi Islam, suci dan tidaknya hati manusia disebabkan oleh faktor magnetik hati manusia pada hal-hal biologis. Apa itu aspek biologis? Aspek biologis adalah segala sesuatu yang membentuk dan membuat jasad jadi to increase, to move, to grow secara empirik. Dalam bahasa lain, unsur biologis adalah unsur-unsur dapat terindera secara kasat mata. Semakin dekat hati manusia kepada hal-hal biologis, maka jiwanya semakin kering dari aspek ruhani, dan tentunya semakin jauh dari Allah Swt sebagai Sang Pencipta dan Pemiliknya.

Al-Qur’an dalam pelbagai surat (misalnya, al-Baqarah:34-38 , al-A’raf: 11-27, al-Hijr:26-44) mendiskripsikan, bahwa Iblis, Adam ‘alaihi al-Salâm (AS) dan istrinya Hawa (Eva) ‘alaihâ al-Salâm dideportasi dari tempat suci, yakni surga, disebabkan karena ego biologis. Iblis secara demonstratif dan arogan kepada Rabb-nya mengklaim, bahwa dirinya secara biologis lebih baik dari Adam AS. “Engkau ciptakan aku dari api. Dan Engkau ciptakan Adam dari tanah,”ujarnya sebagaimana termaktub pada al-A’râf: 12.

Menurut Iblis, alasan dirinya tidak mau sujud (hormat) kepada Adam atas perintah Allah, adalah karena dalam pandangannya api itu lebih baik (better, superiority) dari tanah. Padahal, dalam perspektif Filsafat Islam, api dan tanah keduanya sama-sama unsur biologis. Klaim superioritas biologis inilah yang menjadikan kualitas dan derajat keruhanian atau spiritualitas Iblis menjadi bias dan terkontaminasi dengan aspek biologis, sehingga ia menjadi makhluk yang kotor, terkutuk, dan tak laik tinggal di surga.

Demikian pula manusia. Ketika di surga, Nabi Adam AS dan Hawa dilarang Allah untuk mendekat(i) pohon Khuldi. Pohon Khuldi adalah materi biologis dari pada perintah Allah. Namun, keduanya memilih buah Khuldi. Keduanya tidak sekadar mendekat, tetapi memakannya. Karena perbuatan tersebut, maka kualitas dan tingkat spiritualitas keduanya pun jatuh sebagaimana Iblis. Pun keduanya diusir dari surga-Nya.

Akibat ego biologis tersebut, maka Iblis, Adam AS dan Hawa diperintahturunkan dari surga,- lebih tepatnya turun jatuh dan mendarat,- ke bumi. Di tempat inilah manusia dan jin diberi kesempatan Allah Swt untuk mensucikan diri. Namun, untuk mensucikan diri, ia harus bertarung dengan jiwa buruk (al-fujur)-nya serta rayuan dan godaan Iblis dari kalangan jin itu sendiri.

Secara kosmologis, manusia adalah makhluk yang suci, sebagaimana halnya malaikat dan jin. Selain berasal dari Dzat Yang Mahasuci (Al-Quddus), asal muasal tempat tinggal mereka juga tempat yang suci, yaitu surga. Dan semua agama dan keyakinan mempercayai adanya dan tempat kembali abadi ini.

Agama-agama semitik (Yahudi, Nasrani dan Islam) dan agama-agama pagan (Hindhu, Budha, Konghucu, dan lain-lain), meyakini bahwa pasca kematian (after life) terdapat kehidupan baru di surga. Hanya orang aties yang tidak percaya tentang kehidupan akherat.

Untuk kembali kepada Allah Swt dan surga, manusia harus mensucikan dirinya kembali dari pelbagai aspek biologis, baik berupa makan, minum, tidur, hubungan seksual, dan hal-hal biologis lainnya yang dapat menciderai nilai dan hakekat spiritualitas manasia.

Jalan Spiritual

Dalam mistisisme Islam, tepatnya lagi sufisme Islam, sebagaimana dipratekkan al-Ghazali, Ibn ‘AthaiLlah al-Sankandari, dan al-Siraj al-Thusi, terdapat tiga metode yang harus dilakukan manusia agar hati, jiwa, akal, – dan otomatis jasadnya bersih,- dari masalah-masalah biologis.

Pertama, al-takhallî. Al-takhallî adalah mengosongkan hati, jiwa, akal, dan tubuh dari segala aspek biologis. Pada tahap ini empat unsur manusia tersebut dijauhkan menikmati makanan, minuman, hubungan seksual, tidur, dan sebagainya sehingga materi biologis tidak menguasai atau menghegemoni diri manusia.

Langkah ini dilakukan sebagai cara penyucian hati (tathhîr al-qalb) agar jiwa dan akal manusia menjadi suci dan bersih, sehingga penyakit ruhani atau batin seperti sombong (kibr/takabbur), dengki (hasad), pelit (bakhil), dan lain-lainya tidak mendominasi lagi pada jiwa manusia.

Kedua, al-tahalli. Al-tahalli adalah mengisi rongga batin dan jiwa manusia dengan akhlak-akhlak terpuji, setelah kosong dari segala penyakit hati. Ketika hati sepi atau jauh dari pelbagai jenis penyakit atau noda batin, maka akhlak baik akan lahir dan terekpresi dengan sendirinya. Itulah mengapa, orang yang menjauhkan dari hal-hal keinginan syahwat biologis mudah dan ringan dalam melaksanakan semua larangan dan perintah Tuhan.

Orang yang sudah tidak ada kepentingan dengan hal-hal biologis duniawi, ia akan mudah melaksanakan shalat, membaca al-Qur’an, dzikir, doa, puasa, sedekah dan amal-amal saleh lainnya. Indikatornya adalah ia telah mampu menikmati lezatnya shalat sebagaimana ia sebelumnya tahu nikmatnya makanan, minuman, hubungan suami-istri, dan sebagainya.

Ia merasa lebih nikmat membaca dan belajar al-Qur’an berjam-jam dari pada membaca tulisan di media sosial. Ia pun lebih rindu dan tenang melantunkan kalimat-kalimat dzikir, wirid, doa dan sejenisnya dari pada mendengarkan musik dan tidur-tiduran.

Secara empiris, ibadah-ibadah tersebut dapat dilakukan hanya oleh orang yang hatinya ikhlas, jujur (shidiq), sabar, syukur, rendah hati, rendah diri (kepada Allah), kasih sayang dan lain-lainnya. Akhlak-akhlak mulia tersebut adalah hasil atau buah mujahadah ruhaniyah (olah batin) dan ketaatan hamba kepada Tuhannya.

Setelah kehidupan manusia terhiasi dengan pelbagai akhlak mulia, maka akan lahir al-tajjalî dalam dirinya. Al-tajjalî adalah lahirnya nilai-nilai keagungan yang begitu tampak jelas bagi orang yang menjauhi kenikmatan biologis. Sifat dan perilaku ini hanya dimiliki oleh mereka yang sudah mencapai derajat ma’rifatuLlah dan mengalami penyingkapan tabir hati (mukasyafah al-qalb) atas kehidupan akherat. Mereka ini adalah orang-orang yang sudah selesai dengan (kepentingan atau keinginan) urusan dirinya atau dunia.

Menurut pemikir Islam modern asal Mesir Ali Jumu’ah, metode-metode tersebut di atas di era modern ini merupakan solusi mengatasi penyakit-penyakit pribadi manusia dan sosial.

Dalam perpektif sufistik, beragam ibadah dan nilai kehidupan mulia di atas hanya dapat diraih melalui puasa di bulan Ramadhan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Selama puasa Ramadlan kehidupan manusia di-stel, di-setting, dan di-design agar manusia tidak hanya menghindari hal-hal haram, tetapi juga menahan dan mengurangi hal-hal mubah serta menggantinya dengan pelbagai amalan hati. Inilah makna hadis Nabi Saw yang menyatakan, siapa yang berpuasa Ramadlan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lampau. Artinya, Ketika manusia sudah nihil dari dosa, maka ia telah kembali menjadi manusia spiritual dan manusia berketuhan (insân rabbanî).

Inilah alasan mengapa Rasulullah Saw menyambut bulan Ramadhan dengan penuh rasa suka cita. Di bulan Ramadlan inilah Allah Swt menyediakan tempat dan waktu bagi umat manusia untuk kembali ke bentuk asal dan aslinya, yaitu makhluk suci rabbani.

Salman al-Farisi meriwayatkan, bahwa Rasulullah berceramah di harapan para sahabat di akhir Sya’ban, beliau bersabda,“Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana rezki dimudahkan bagi orang mu kmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.”

Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga.” (H.R. Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban).

  • Penulis adalah Saifudin Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.
  • Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Penulis

Memimpin tim redaksi dengan fokus pada pemberitaan akurat, mendalam, dan memancing nalar pembaca. Fokus di rubrik nasional, ekonomi, dan hukum

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPK

    KPK Ciduk 6 Anggota DPRD dan Pejabat OKU dalam OTT Kasus Korupsi

    • calendar_month Sen, 17 Mar 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan enam orang sebagai tersangka setelah melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan. Keenam tersangka tersebut meliputi Ferlan Juliansyah (FJ), anggota Komisi III DPRD OKU; M. Fahrudin (MFR), Ketua Komisi III DPRD OKU; dan Umi Hartati (UH), Ketua Komisi II DPRD OKU. Selain itu, […]

  • Halte Senen Terbakar, Massa Juga Jarah Rumah Anggota DPR Sahroni

    Halte Senen Terbakar, Massa Juga Jarah Rumah Anggota DPR Sahroni

    • calendar_month Sab, 30 Agu 2025
    • account_circle Nisrina
    • 0Komentar

    menalar.id – Halte TransJakarta Pasar Senen, Jakarta Pusat, mengalami kerusakan setelah terbakar dalam aksi demonstrasi pada Jumat (29/8/2025) malam. Sehari berselang, Sabtu (30/8/2025) siang, halte yang tinggal puing itu mulai ramai didatangi warga. Pantauan di lokasi, bagian dalam halte sudah hangus. Atap plafon ambruk, kaca-kaca pecah berserakan, sementara tiang dan dinding tampak gosong. Warga terlihat […]

  • 49 Nama Calon Pahlawan Nasional, Publik Soroti Nama Soeharto dan Gus Dur

    49 Nama Calon Pahlawan Nasional, Publik Soroti Nama Soeharto dan Gus Dur

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    menalar.id., – Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) menyerahkan 49 nama calon pahlawan nasional kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (5/11/2025). Penyerahan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025. Melansir Antara News, Ketua Dewan Gelar Fadli Zon menyampaikan daftar tersebut terdiri atas 40 nama baru dan […]

  • Gunung Ile Lewotolok Naik Status ke Siaga, Ribuan Gempa Tercatat

    Gunung Ile Lewotolok Naik Status ke Siaga, Ribuan Gempa Tercatat

    • calendar_month Ming, 18 Jan 2026
    • account_circle Nazula Destiyana
    • 1Komentar

    menalar.id,. –  Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Ile Lewotolok dari Level II menjadi Level III, pada Minggu (18/1/2026). Badan Geologi mengambil keputusan tersebut setelah melihat adanya peningkatan aktivitas gunung api dalam beberapa pekan terakhir. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan bahwa pemantauan selama periode (1/1/2026) hingga […]

  • Gaji Rp6 Juta Dinilai Tak Memadai, KPK Desak Pemerintah Naikkan Upah Kepala Daerah

    Gaji Rp6 Juta Dinilai Tak Memadai, KPK Desak Pemerintah Naikkan Gaji Kepala Daerah

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Sekretaris Jenderal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Cahya H. Harefa mendorong pemerintah pusat untuk menaikkan gaji kepala daerah. Menurutnya, peningkatan penghasilan para pemimpin daerah dapat mengurangi potensi korupsi yang kerap melibatkan pejabat setempat. “Nah ini memang tugas bagi pemerintah pusat juga untuk memikirkan bagaimana soal fasilitas dan gaji kepala daerah ini,” tegas Cahya dalam […]

  • Balikpapan Krisis Pertamax, Pertamina Cuma Bisa Minta Maaf

    Balikpapan Krisis Pertamax, Pertamina Cuma Bisa Minta Maaf

    • calendar_month Rab, 21 Mei 2025
    • account_circle Sayida
    • 0Komentar

    menalar.id,. – Pertamina menjelaskan bahwa kelangkaan BBM Pertamax di Balikpapan terjadi akibat peningkatan permintaan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Perusahaan BUMN ini menilai kondisi ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat akan BBM berkualitas. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami terus berupaya meningkatkan pelayanan dan memastikan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” jelas Edi Mangun, […]

expand_less